0 menit baca 0 %

Kakanwil: Imam dan Khatib Manusia Langka

Ringkasan: Pekanbaru (HUMAS)- Dalam sambutannya pada acara Pelatihan Imam dan Khatib, Rabu (6/7) yang ditaja oleh Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Riau dan PTP Nasional V di aula Masjid Agung Annur Pekanbaru, Kakanwil Kemenag Riau Drs. H. Asyari Nur SH MM menegaskan bahwa Imam dan Khatib adalah manusi...
Pekanbaru (HUMAS)- Dalam sambutannya pada acara Pelatihan Imam dan Khatib, Rabu (6/7) yang ditaja oleh Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Riau dan PTP Nasional V di aula Masjid Agung Annur Pekanbaru, Kakanwil Kemenag Riau Drs. H. Asyari Nur SH MM menegaskan bahwa Imam dan Khatib adalah manusia langka karena mereka adalah orang-orang terpilih yang bertugas mengurus masjid dan umat. "Pada zaman kini kita sangat susah menemukan imam dan khatib yang benar-benar mencurahkan perhatiannya mengurus masjid, apalagi di desa-desa terpencil. Sebab paradigma imam dan khatib atau ustadz, tuan guru, khalifah pada masa kini sangat jauh bergeser dari pandangan masyarakat di masa dahulu. Kalau dahuliu, walaupun mereka tidak mendapat gaji, tetapi kesejahteraannya sudah diperhatikan masyarakat. Rumah, tanah, kebun, dan fasilitas lainnya sudah cukup tersedia. Rasa hormat dan wibawa seorang ustadz, buya, khalifah, kyai dan lainnya benar-benar masih dirasakan masyarakat terutama di pedesaan, tidak saja dalam urusan agama, tetapi dalam urusan duniawi seperti sakit, membangun rumah, berladang, dan sebagainya" jelas Asyari di hadapan para peserta pelatihan yang jumlahnya tak kurang dari 150 orang peserta dari kota Pekanbaru dan luar kota se- Riau. Oleh sebab itu menurut Asyari keberadaan para imam dan khatib ini sangat vital teritama di desa-desa kritis baik secara ekonomi dan aqidah. "Tak kurang dari 13.000-an masjid/mushalla yang ada di Riau, namun yang kuat kedudukannya hanya sekitar 30% saja. Masjid yang kuat adlah masjid/mushalla yang memiliki manajemen bagus, fasilitas lengkap, jama`ahnya banyak, dan mandiri dalam menjalankan biaya operasional masjid". "Sedangkana sisa dari 30% itu adalah masjid-masjid lemah. Yang kadangkala bangunannya ada tapi sepi dari jama`ah, bangunan dan operasional sehari-hari terbengkalai. Apalagi untuk mencari imam dan khatib yang menghidupkan masjid dengan sholat jama`ah lima waktu dan sholat Jum`at. Justru karena itulah agar imam dan khatib bisa tenang dan tetap bekerja secara permanen di masjid, mereka harus diberi kesejahteraan yang lumayan sehingga tidak memikirkan lagi masalah pemenuhan ekonomi". "Saya sudah mencoba untuk mencarikan solusi secara ekonomi untuk memberikan penghasilan kas masjid dengan menanan paling tidak 100-200 batang sawit. Dengan memungut hasil dari kebun sawit, kas masjid tidak terlalu bergantung kepada uang zakat, infaq, sedekah, dan wakaf umat. Jangan coba bandingkan kesejahteraan Imam dan Khatib di negara lain. Misalnya saja Imam Masjidil Haram dan Masjid Nabawi Madinah, gaji mereka setara menteri. tentunya kita tidak persis seperti demikian. Paling tidak ada upaya ke arah peningkatan kesejahteraan Imam dan Khatib ini" tutur Kakanwil yang juga merupakan seorang Khalifah Tarikat. Rasa terimakasih diungkapkan pula oleh Kakanwil kepada pihak PTP Nasional V yang diwakili oleh Direktur Utamanya Fauzi Yusuf dan Pemprov. Riau atas terselenggaranya acara pelatihan tersebut. "Semoga acara seperti ini trus mendapat dukungan baik moral maupun material baik oleh PTPN V sebagai Badan Usaha Milik Negara maupun oleh Pemerintah Provinsi Riau sendiri" harap Kakanwil. (as)