0 menit baca 0 %

Kakanwil: Manasik Haji Tetap, Sedangkan Manajemennya Selalu Berubah

Ringkasan: Pekanbaru (Humas)- Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Riau Drs. H. Asyari Nur, SH, MM mengingatkan bahwa penyelenggaraan haji dari tahun ke tahun selalu terjadi perubahan baik fasilitas, sarana, layanan, maupun kuota jemaah calon haji sendiri.
Pekanbaru (Humas)- Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Riau Drs. H. Asyari Nur, SH, MM mengingatkan bahwa penyelenggaraan haji dari tahun ke tahun selalu terjadi perubahan baik fasilitas, sarana, layanan, maupun kuota jemaah calon haji sendiri. Untuk itu kepada penyelenggara haji, petugas dan jamaah agar memperbanyak ilmu dan pengetahuan tentang haji ini. Kakanwil menyampaikan hal tersebut di hadapan peserta dalam pengarahan sekaligus pembukaan acara Orientasi Pembinaan dan Bimbingan Haji yang ditaja oleh Bidang Penyelenggaraan Haji, Zakat dan Wakaf Kanwil Kemenag. Prov. Riau, Senin (4/6). “Pemerintah sudah meminta tambahan kuota haji kepada pemerintah Arab Saudi untuk menambah kuota haji tahun ini (musim haji tahun 2012) dalam rangka memenuhi keinginan umat muslim menunaikan ibadah haji. Namun, dengan penambahan tersebut apakah akan mampu diimbangi dengan tersedianya fasilitas dan sarana di sana. Misalnya penyediaan kemah, tenda dan AC di Mina. Justru oleh karena itu kita diminta untuk siap dan bisa mengantisipasi segala kemungkinan yang akan terjadi. Di sinilah peran pembimbing ibadah haji agar mampu memberikan pengertian kepada JCH agar mampu menahan diri dan sabar selama menjalankan ibadah di tanah suci. Itu artinya manajeman haji itu berubah, meskipun ibadah haji itu sendiri sudah tetap (manasiknya). Bahkan hingga saat ini ketentuan pemerintah (Keputusan Presiden tentang BPIH tahun 2012) belum dikeluarkan”, jelasnya. Asyari juga mewanti-wanti agar dalam pelaksanaan haji tahun 1433 H ini, calon jemaah haji Indonesia benar-benar menjaga nama baik negara. Baik melalui sikap dan perilaku maupun cara berpakaian. “Misalnya di tahun lalu (1432 H/2011) masih dijumpai jamaah yang kurang memperhatikan etika dalam berpakaian. Ada yang memakai pakaian tipis, training-suit, yang cukup menganggu kekhusukan peribadatan. Maklumlah tidak semua jamaah berpendidikan cukup tinggi”, jelasnya. Kakanwil berharap agar acara Orientasi Haji bisa terus berjalan setiap tahun dengan memperhatikan situasi dan kondisi terkini, karena perubahan di era globalisasi ini sangat pesat perkembangannya dan berpengaruh pula terhadap manajemen penyelenggaraan haji. Justru oleh karena itu keberadaan IPHI di Pusat maupun Daerah sangat dibutuhkan. (as).