0 menit baca 0 %

Kampar Negeri Santri Identik dengan Sarungan, Maswir Paparkan Sejarahnya

Ringkasan: Kampar (Kemenag) Dalam amanatnya sebagai penerima apel pagi Selasa (21/1/2025), Kepala Seksi Bimas Islam, Maswir, menjelaskan sedikit tentang sejarah dan latar belakang dari tradisi sarungan yang melekat di masyarakat Indonesia.Apel pagi yang dilaksanakan di Ruang Terbuka Kemenag Kampar menjadi saks...

Kampar (Kemenag) – Dalam amanatnya sebagai penerima apel pagi Selasa (21/1/2025), Kepala Seksi Bimas Islam, Maswir, menjelaskan sedikit tentang sejarah dan latar belakang dari tradisi “sarungan” yang melekat di masyarakat Indonesia.

Apel pagi yang dilaksanakan di Ruang Terbuka Kemenag Kampar menjadi saksi cerita dari Kasi Bimas Islam tersebut. Dalam bentuk dukungannya terhadap program Kemenag Kampar untuk mewujudkan Kampar Negeri Santri dan Kampung Moderasi, beliau mengatakan bahwa pegawai Kemenag Kampar saat ini merupakan pelopor atau perintis dari program ini.

“Kita para pegawai Kemenag Kampar saat ini bisa dikatakan adalah pelopor atau perintis daripada program yang sangat bagus ini. Kampar sebagai Negeri Santri tentu identik dengan kaum “sarungan”. Dalam keseharian masyarakat Indonesia khususnya umat Islam, tradisi ini lahir karena kebiasaan kaum muslim yang membutuhkan waktu lama untuk berdzikir setelah sholat. Dan demi kenyamanan saat berdzikir tersebutlah yang mengindikasikan banyak yang lebih memilih memakai sarung,” jelas Maswir.

Merunut dari tradisi tersebut, Maswir pun mengharapkan kepada seluruh pegawai khususnya di Kantor Kemenag Kampar untuk mengindahkan dan menghidupkan kembali dzikir setelah sholat fardhu.

“Manisnya dzikir setiap setelah sholat itu juga merupakan meditasi untuk diri kita sendiri. Mari kita perlihatkan sedikit demi sedikit ciri khas yang dibawa oleh kaum “sarungan” ini agar sejalan dengan program Kampar sebagai Negeri Santri,” tutupnya.

(Cicy/Fatmi)