Kapus Pinmas: Inner Dinaminator Penentu Kemajuan Website Kemenag
Ringkasan:
Bandung (Humas)- Inner Dinaminator atau dorongan dari dalam diri seseorang menjadi penentu kebehasilan sebuah usaha, temasuk dalam pengelolaan website di lingkungan Kementerian Agama (Kemenag). Untuk itu, pengelola website baik pusat maupun daerah harus memiliki inner dinaminator dan dinaminator dal...
Bandung (Humas)- Inner Dinaminator atau dorongan dari dalam diri seseorang menjadi penentu kebehasilan sebuah usaha, temasuk dalam pengelolaan website di lingkungan Kementerian Agama (Kemenag). Untuk itu, pengelola website baik pusat maupun daerah harus memiliki inner dinaminator dan dinaminator dalam masyarakat khususnya diera teknologi informasi yang semakin berkembang saat ini.
Demikian ditegaskan Kepala Pusat Informasi dan Kehumasan (Kapus Pinmas) Kementerian Agama (Kemenag) RI, Masyhuri AM, M Pd, Kamis (16/12) dalam kata sambutannya pada Rapat Evaluasi dan Peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) Pengelolaan Website Kemenag Pusat dan Daerah di Hotel Horison Bandung.
Ia mengatakan, Inner Dinaminator ibaratkan sebuah aki bagi hidupnya startar kendaraan bermotor, jika akinya tidak ada maka kendaraan tesebut tidak akan bisa berjalan. Begitu juga dalam pengelolaan website, harus dikelola secara tepat. "Saat ini mau tidak mau web harus dikembangkan, tidak ada kata berhenti ditengah jalan. Karena siapa yang berhenti, maka dia akan tergilas," ungkap Masyhuri menggambarkan sedikit tentang website dengan kebutuhan akan informasi, khususunya oleh masyarakat.
Menurutnya, star dari awal tim pengelola web harus sudah memiliki inner dinaminatar. Jika inner tesebut mengendur maka semua kan tetinggal. Apalagi, Kemenag tidak diotonomikan dan memiliki jumlah satker yang sangat besar hampir mencapai 5000 santuan kerja. Belum lagi jika KUA menjadi Satker, maka jumlah Satke di Kemenag bisa menjadi 10000. Sehingga, dengan jumlah yang sangat besar tesebut membutuhkan variable yang cukup cepat, efesien dan efektif yaitu teknologi informasi melalui email dan website.
"Jika semua Kemenag di Indonesia memiliki website dan bisa berkomunikasi secara online, maka akan mengefesienkan waktu dan anggaran. Misalnya saja, saat kita membutuhkan informasi keagamaann di Papua sana, tanpa harus ke Papua yang memakan waktu behari-hari dan biaya besar, dengan teknologi yang ada saat ini kita bisa memperoleh data yang kita butuhkan dalam beberapa saat. Begitu juga dalam hal mengirim informasi, cukup dengan via email, dalam waktu beberapa menit infonya sudah sampai ke kita," terangnya.
Untuk itu, tambahnya, organisasi yang cedas adalah organisasi yang pandai membangun sistem informasi, jadi sudah sepantasnya website Kemenag menjadi etalase atau show room, dimana saat seseorang membutuhkan infomasi tentang apa saja yang bekaitan dengan keagamaan tinggal mengakses di website.
"Melalui rapat evaluasi dan peningkatan SDM pengelola website akan memberikan suasana baru dalam pengelolaan website Kemenag. Apalagi, tehadap pengelolaan web terbaik akan diberikan penghargaan sebagai motifasi untuk dapat terus aktif memberikan informasi pada masyarakat melalui website," harapnya. (msd/nvm)