0 menit baca 0 %

KASI PAIS HADIRI PERINGATAN RENGAT BERSEJARAH 5 JANUARI 1949

Ringkasan: Indragiri Hulu, (Inmas). Menindkalanjuti Surat Undangan Bupati Indragiri Hulu Nomor : 460/DINSOS/03/2022, maka pada hari Rabu 5 Januari 2022, Kasi PAIS Kankemenag Kab. Inhu, H. Rajuki Ridwan, MA sekaligus merupakan Pengurus LAMR (Lembaga Adat Melayu Riau) Kab.

Indragiri Hulu, (Inmas). Menindkalanjuti Surat Undangan Bupati Indragiri Hulu Nomor : 460/DINSOS/03/2022, maka pada hari Rabu 5 Januari 2022, Kasi PAIS Kankemenag Kab. Inhu, H. Rajuki Ridwan, MA sekaligus merupakan Pengurus LAMR (Lembaga Adat Melayu Riau) Kab. Inhu menghadiri acara Peringatan Rengat Bersejarah 5 Januari 1949, tempat di Tugu Peringatan Rengat Bersejarah atau persisnya di depan rumah dinas Bupati Inhu. Bertindak selaku Inspektur Upacara, Bupati Inhu Rezita Meylani Yopi, S.E.
Tragedi 5 Januari 1949 merupakan peristiwa pembantaian yang dilakukan oleh Tentara Kerajaan Hindia Belanda di Rengat, Riau pada akhir periode Agresi Militer Belanda II, tepatnya pada 5 Januari 1949.
Belanda menyerang Rengat pada pagi hari. Untuk menduduki Rengat, Belanda menerjunkan sebanyak 180 pasukan khusus Korps Speciale Troepen di bawah pimpinan Letnan Rudy de Me. Mereka melakukan penjarahan, pemerkosaan, dan eksekusi terhadap para anggota TNI, pegawai negeri, dan warga sipil. Mayat para korban dibuang di Sungai Indragiri.
Di Rengat, terdapat sebuah tugu peringatan yang memuat daftar nama 186 korban tewas. Namun, pada bagian atas daftar tertulis "kurang lebih 1.500 orang" meninggal. Penulis Indonesia yang menulis tentang pembantaian Rengat sepakat bahwa korban tewas mencapai ribuan orang.
Seorang saksi mata Wasmad Rads dalam memoarnya Lagu Sunyi dari Indragiri menulis, mereka yang ditangkap oleh pasukan Belanda dikumpulkan dan dibariskan di bantaran sungai Indragiri. Satu per satu, mereka ditembaki dari belakang hingga tercebur ke air. Wasmad berhasil melarikan diri ke hutan, sebelum akhirnya ditangkap oleh tentara KNIL dan dipenjara hingga pengakuan kedaulatan Indonesia pada Desember 1949.
Di antara nama korban tewas dalam pembantaian Rengat tersebut adalah ayah dari seorang penyair Indonesia terkenal Chairil Anwar, Toeloes, yang saat itu menjabat sebagai Bupati Indragiri.
Setiap tahunnya (5 Januari), peristiwa Pembantaian Rengat diperingati oleh Pemerintah Indragiri Hulu dan masyarakat sebagai Rengat Bersejarah.
Selepas meletakkan karangan bunga di Tugu 5 Januari 1949, Bupati Inhu bersama para undangan selanjutnya menabur bunga di Sungai Indragiri Hulu, demikian disampaikan H. Rajuki Ridwan.(tulang)