Pekanbaru (Kemenag) — Kepala Seksi Pendidikan Islam (Kasi Pendis) Kementerian Agama Kabupaten Pelalawan, Abdul Wahid, menjadi narasumber dalam dialog interaktif yang diselenggarakan oleh Radio Republik Indonesia (RRI) Pekanbaru, pada Senin pagi (29/09/2025). Acara yang dimulai pukul 08.00 WIB ini mengangkat tema: "Geliat: Menumbuhkan Generasi Cerdas dan Berkarakter Sejak Dini", dan disiarkan secara langsung melalui frekuensi radio serta kanal YouTube RRI Pekanbaru.
Dialog ini merupakan bagian dari upaya literasi publik yang dilakukan RRI dalam menggugah kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan usia dini, terutama dalam membangun fondasi karakter generasi masa depan. Dialog dipandu oleh presenter RRI, Tamara Pratiwi, dan menghadirkan juga Yelfi Eriza, Ketua Kelompok Kerja Guru Raudhatul Athfal (KKKGRA) Kabupaten Pelalawan wilayah 1.
Dalam paparannya, Abdul Wahid menekankan bahwa pendidikan anak usia dini, khususnya melalui lembaga Raudhatul Athfal (RA), memiliki peranan sangat strategis dalam proses pembentukan karakter anak. Pendidikan pada jenjang ini bukan hanya soal pengenalan huruf atau angka, tetapi jauh lebih penting adalah bagaimana menanamkan nilai-nilai akhlak, spiritualitas, dan sosial sejak usia dini.
“Di Kementerian Agama, kita mengenal konsep berjenjang dalam pembinaan karakter. Di RA itu disebut sebagai tahap penyemaian, di Madrasah Ibtidaiyah sebagai penanaman, di MTs penguatan, dan di MA pemahaman. Artinya, semuanya dimulai dari RA. Maka jika kita ingin mencetak generasi cerdas dan berkarakter, pondasinya harus kuat di RA,” ujar Abdul Wahid. Ia menambahkan bahwa di Kabupaten Pelalawan saat ini terdapat 26 RA yang tersebar di berbagai kecamatan. Mengingat luasnya wilayah, pembinaan RA dibagi menjadi dua zona, yakni Pelalawan 1 yang mencakup 14 RA, dan Pelalawan 2dengan 12 RA.
Dalam dialog ini, perwakilan yang hadir berasal dari wilayah Pelalawan 1.
Abdul Wahid juga menggarisbawahi bahwa target strategis Kementerian Agama saat ini adalah selain mendidik para murid maka perlu juga meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) para pendidik di lingkungan RA. Menurutnya, peningkatan kualitas guru merupakan kunci utama terciptanya proses pendidikan yang efektif dan bermakna “Walaupun masih pada jenjang RA, para guru memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk karakter anak. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi mereka adalah prioritas kami. Kami ingin guru RA tidak hanya mengajar, tapi juga menjadi teladan dan fasilitator nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari anak didik,” tambahnya.
Sementara itu, Yelfi Eriza turut menyampaikan bahwa KKKGRA Pelalawan secara rutin melakukan pembinaan, pelatihan, serta kegiatan penguatan kapasitas bagi para guru RA. Menurutnya, antusiasme guru dalam mengikuti program peningkatan kompetensi sangat tinggi, sebagai bentuk komitmen terhadap mutu pendidikan. “Kita ingin pendidikan di RA bukan hanya menjadi tempat belajar, tetapi menjadi rumah pertama bagi pembentukan karakter. Di sinilah nilai-nilai Islam mulai diperkenalkan dan dipraktikkan sejak dini, agar menjadi kebiasaan yang tertanam dalam diri anak-anak kita,” tutup Abdul Wahid.
Dialog ini menjadi bukti bahwa membangun generasi cerdas dan berkarakter tidak cukup dengan kurikulum semata, tetapi harus dimulai dari keteladanan, sinergi, dan semangat kolektif para pendidik. Kemenag Pelalawan hadir untuk memastikan bahwa setiap langkah pendidikan usia dini memiliki arah yang jelas dan bermuara pada terbentuknya insan-insan berakhlak mulia.(dbs)