0 menit baca 0 %

Kasi PHU H. Suhardi Hs., S.Ag, MA Kultum dengan tema “SYUKUR NIKMAT”

Ringkasan: Pekanbaru (Inmas), Bertempat di Masjid Iklhas Beramal Kantor Kementerian Kota Pekanbaru Kasi PHU H. Suhardi Hs., S.Ag, MA menyampaikan kultum tentang Kisah Seorang Lumpuh di Pinggir Jalan . Selasa(23/02/2021)Suatu ketika Sayyidina Ibrahim Ibnu Adham berjalan-jalan ke pasar.

Pekanbaru (Inmas), Bertempat di Masjid Iklhas Beramal Kantor Kementerian Kota Pekanbaru Kasi PHU H. Suhardi Hs., S.Ag, MA menyampaikan kultum tentang “Kisah Seorang Lumpuh di Pinggir Jalan“. Selasa(23/02/2021)

Suatu ketika Sayyidina Ibrahim Ibnu Adham berjalan-jalan ke pasar. Saat dia mengelilingi dan berjalan di seputaran pasar, dia menemukan seorang lelaki yang duduk dipinggir jalan sedang menunggu uluran tangan para dermawan. Lelaki itu lumpuh, tangannya pontong keduanya, matanya buta, tubuhnya penuh dengan penyakit Levra sambil duduk dipinggir jalan lewat Sayyidina Ibrahim Ibnu Adham, lalu kemudian Ibrahim Ibnu Adham, memasukkan kemulutnya makanan.  Lalu sang lelaki tadi dengan lantang dan bersemangat mengucapkan kalimat  Alhamdulillahirabbil'alamin ya... Rabb.

Lalu kemudian, Sayyidina Ibrahim Ibnu Adham terkejut dengan ucapan sang lelaki. Kemudian dia berpikir dan bertanya-tanya di dalam hatinya dan bertanya, apa yang membuat dia begitu kencang suaranya mengucapkan kalimat Alhamdulillah..., sementara dia dalam keadaan lumpuh kaki terpotong, tangan pontong, mata buta dan punya penyakit levra dan tak bisa apa -apa lagi. Semua orang jijik dan tak mau mendekat.

Lalu kemudian Ibrahim Ibnu Adham menanyakan langsung kepada sang lelaki itu. Kenapa begitu kuatnya engkau mengucapkan Alhamdulillah.... Sang lelaki menjawab, kenapa tidak... aku mengucapkan Alhamdulillah... Karena, begitu besarnya yang aku rasakan nikmat yang luar biasa, disaat tuan memasukkan makanan ke mulut-ku.

Kemudian Ibrahim mendekat kepada lelaki itu, Ibrahim mengucapkan salam Assalamualaikum,lalu sang lelaki menjawab salam Ibrahim. Wa'alaikumussalamu'alaika ya Ibrahim. Ibrahim kaget, karena menjawab salam Ibrahim dengan menyebut namanya.  Lalu Ibrahim bertanya.  min aina ta'rifini Dari mana engkau tau dan kenal dengan-ku, kita tak pernah berjumpa dan engkau tak bisa melihat, kata Ibrahim.

Sang lelaki itu menjawab, maajahiltu syaik mundup'araftullah, kata lelaki tadi, tidak ada yang tidak aku kenali, semenjak aku kenal dengan Allah.

Ternyata, ketika seseorang sudah kenal dengan Allah, tidak ada sesuatu-pun penghalang untuk mengenal yang lain. Masya Allah....

Kemudian Ibrahim Ibnu Adham melanjutkan bertanya kepada lelaki buta tadi, engkau lumpuh, buta, tangan pontong dan tak punya rumah?, apa nikmat besar yang engkau syukuri yang engkau maksud?, tanya Ibrahim....

Lalu kemudian sang lelaki itu menjawab, karena Allah meninggalkan kepada-ku dua yang aku Syukuri. Apa itu kata Ibrahim?

Dia menjawab, karena Allah meninggalkan kepada ku dua perkara, yakni qalban syakiran walisanan dzakiran, Allah tinggalkan kepada-ku Hati yang bersyukur kepada Allah Swt dan Lisan yang berzikir kepada Allah Swt.

Apakah dua hal tersebut bukan sesuatu yang besar ? Yang layak untuk aku syukuri ? Apakah ada kenikmatan yang lebih besar dari pada itu ?

"Orang yang punya rumah besar, punya mobil mewah, harta berlimpah, tapi dia tidak punya hati yang bersyukur dan lidah yang berzikir'', apakah ada nikmat yang paling besar dari pada itu?

Alhamdulillah... Kata lelaki itu, masih ada nikmat yang paling besar di tinggalkan Allah kepada-ku....

Bersyukurlah sahabat walau pun sesuatu yang kita kehendaki belum kita dapatkan, akan tetapi yang paling besar adalah mensyukuri apa yang Allah sudah titipkan, kita jaga dan di manfaatkan.

Semoga kita semua dapat mengambil hikmahnya. (Annur/idris)