0 menit baca 0 %

Kelelahan Berdampak Terjadinya Dimensia, Jemaah Jangan Buat Aktifitas Ekstra

Ringkasan: Pekanbaru (Kemenag) - Sejumlah jemaah ditemui petugas mengalami gejala dimensia yakni berupa lupa arah jalan pulang. Demensia adalah kondisi penurunan kemampuan berpikir dan ingatan seseorang yang umumnya terjadi pada lansia (usia 65 tahun ke atas). Kondisi ini sangat dimungkinkan terjadi mengingat...

Pekanbaru (Kemenag) - Sejumlah jemaah ditemui petugas mengalami gejala dimensia yakni berupa lupa arah jalan pulang. Demensia adalah kondisi penurunan kemampuan berpikir dan ingatan seseorang yang umumnya terjadi pada lansia (usia 65 tahun ke atas). Kondisi ini sangat dimungkinkan terjadi mengingat jemaah lansia pada musim haji tahun ini cukup banyak.

Demensia sewaktu-waktu bisa muncul terutama disebabkan kelelahan dan dehidrasi. Bagi jemaah lansia sangat disarankan untuk beristirahat yang cukup dan tidak memaksakan diri beraktivitas di luar kegiatan ibadah haji. Hal itu dapat memicu kelelahan ataupun terjadi dehidrasi akibat paparan cuaca panas di Arab Saudi.

Menanggapi hal ini, Pelaksana Tugas Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Riau H. Muliardi meminta kepada seluruh petugas kloter dan jemaah agar tidak memaksa diri untuk melakukan aktifitas yang membawa dampak terjadinya dimensia.

“Saya minta kepada petugas Kloter dan Jemaah jangan memaksa diri melakukan aktifitas ekstra yang membawa dampak terjadinya gejala dimensia atau lupa. Jauhkan Jemaah dari muncul nya penyakit tersebut. Kepada para pendamping jemaah diimbau untuk selalu mengajak mereka bersosialisasi, berdoa, zikir bersama, kemudian hindari yang bisa menyebabkan jemaah lansia menjadi lelah”.

Gangguan ini menurut tenaga medis, tutur Muliardi secara umum dipicu oleh dua hal, baik karena faktor sosial atau psikososial maupun faktor pribadi atau psikologis. Selain itu juga dipicu oleh faktor biologis. Gangguan jiwa jenis ini juga biasanya dipicu faktor genetic.

Demensia biasanya diikuti dengan gangguan cara berpikir, seperti disorientasi tempat, disorientasi waktu, dan disorientasi orang-orang di sekitarnya. Gejala yang bisa terlihat di awal biasanya seperti mudah lupa, terutama untuk kejadian-kejadian yang baru saja dialami. Kemudian, sulit mempelajari hal baru, sulit konsentrasi, termasuk sulit mengingat waktu dan tempat, terutama setelah mereka berpindah dari kampungnya.

“Jemaah yang mengalami demensia perlu diberikan stimulasi kognitif. Misalnya dengan mengajak pasien ngobrol dan bersosialisasi, atau melakukan pendampingan terhadap pasien untuk mencegah terjadinya demensia,” ujarnya.