0 menit baca 0 %

Kemenag dan NU Taja Pelatihan Imam dan Khatib se Kecamatan Kampar Kiri Tengah

Ringkasan: Pekanbaru (Humas)- Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Riau melalui Bidang Penamas bekerjasama dengan lembaga dakwah Nahdatul Ulama (NU) Riau, Ahad (12/12) menggelar Tabliq Akbar sekaligus Pelatihan Imam dan Khatib se Kecamatan Kampar Kiri Tengah di Pondok Pesantren Darul Sali...
Pekanbaru (Humas)- Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Riau melalui Bidang Penamas bekerjasama dengan lembaga dakwah Nahdatul Ulama (NU) Riau, Ahad (12/12) menggelar Tabliq Akbar sekaligus Pelatihan Imam dan Khatib se Kecamatan Kampar Kiri Tengah di Pondok Pesantren Darul Salikin Desa Mekar Jaya Kabupaten Kampar. Acara tersebut diikuti oleh mubaligh dan mubaligha serta dihadiri oleh Kades se Kecamatan Kampar Kiri Tengah, Kapolsek, Camat, tokoh agama dan tokoh masyarakat dengan pemberi tausiah KH Sahudlan Pulungan. Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Ka Kanwil Kemenag) Provinsi Riau Drs H Asyari Nur SH MM, melalui Kepala Bidang Penamas, HM Saman S Sos, M Si dalam sambutannya mengatakan, kegiatan Tabligh Akbar dan Pembinaan Imam dan Khatib merupakan usaha untuk mendengungkan niat untuk melakukan perubahan dengan memahami nilai-nilai hijrah Rasulullah SAW, yaitu persatuan dan kesatuan umat. Sedangkan kegiatan pembinaan pemakmur Masjid diantara Iman dan Khatib merupakan usaha untuk menjadikan masjid sebagai setra utama untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan umat. "Antara pembinaan Imam dan Khatib dan peringatan tahun baru 1432 Hijriyah mempunyai korelasi yang jelas, sama-sama untuk membangun bidang keagamana agar menjadi lebih baik," tegasnya. Menurutnya, dalam Islam, institusi keagamaan yang pertama dan utama adalah masjid sebagai tempat pembinaan hubungan dua arah atau hablun minallah dan hablun minannas. Untuk itu, saat Rasulullah menginjakkan kaki di tanah Quba, yang pertama ia segerakan adalah membangun masjid yang merupakan Masjid pertama di dalam islam yang dikenal dengan nama Masjid Quba. "Masjid mempunyai peran ganda, pertama sebagai tempat ibadah yang menghubungkan hamba dengan Allah, kedua sebagai tempat berjamaah yang mengikat erat hubungan antar sesama hamba. Namun permasalahan yang dihadapi sekarang adalah bagaiman mengaktualkan kembali peristiwa hijrah yang dilakukan oleh Nabi beserta sahabatnya dalam kehidupan sehari-hari untuk mengatasi permasalahan keagamaan yang banyak muncul dimasyarakat, mulai dari krisis moral, aliran sempalan dan sebagainya," terang Saman. Untuk itu, dengan adanya pembinaan Imam dan Khatib diharapkan mampu menyatukan visi dan misi dalam penyampaian info keagamaan, sehingga aliaran-aliran sempalan yang ada di masyarakat tidak merasuk dengan mudah. "Selain itu, untuk tahun-tahun mendatang kita akan fokuskan pembinaan Imam dan Khatib di daerah-daerah rawan akidah dan terpencil, seperti daerah Sebrida Indragiri Hulu (Inhu), Selensen Indragiri Hilir (Inhil), Selat Akar Kepulauan Meranti dan beberapa daerah lainnya. (msd)