Dumai (Kemenag) — Kantor
Kementerian Agama Kota Dumai melalui Seksi Pendidikan Islam
menggelar Rapat Penyusunan Kurikulum Madrasah dan Insersi Kurikulum
Berbasis Cinta (KBC), Anti Korupsi dan Moderasi. Kegiatan ini berlangsung di
Aula Pertemuan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Dumai pada hari Selasa
(01/07/2025) pagi, sebagai bagian dari upaya penguatan karakter dalam sistem
pendidikan nasional.
Rapat dengan menghadirkan para
peserta dari Kepala Madrasah RA, MI, MTs dan MA serta Waka Kurikulum pada Madrasah
yang ada di Kota Dumai ini, menjadi ruang strategis untuk merumuskan kembali
arah pendidikan karakter berbasis spiritualitas dan nilai-nilai kasih sayang.
Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang diinisiasi oleh Menteri Agama menjadi
respons konkret terhadap tantangan zaman yang kian kompleks, menuntut
pendekatan pendidikan yang tidak hanya menajamkan akal, tetapi juga menyentuh
hati.
Dalam sambutannya, Januarizal
selaku Kepala Seksi (Kasi) Pendidikan Islam (Pendis), menyoroti akar tradisi
pendidikan Islam yang sejak awal menekankan makna dan refleksi. Ia mencontohkan
model pembelajaran kitab kuning dalam pendidikan kader ulama sebagai metode
yang mendalam dalam menanamkan nilai cinta dan kesalehan kontekstual.
“Pendidikan bukan hanya soal
menghafal, tapi menyelami makna. Cinta dalam pendidikan adalah cara kita
menjangkau hati peserta didik,” ujar Januarizal.
Kasi Pendis Januarizal juga
menegaskan, bahwa KBC bukanlah kurikulum baru, melainkan revitalisasi kurikulum
yang ada dengan pendekatan dan ruh cinta.
“Kurikulum ini hadir untuk
menanamkan nilai cinta kepada Tuhan, Rasul, sesama, hingga alam sekitar. Ini
tentang membangun ekosistem pendidikan yang berjiwa kasih,” ujarnya.
Menurutnya, cinta dalam pendidikan
bukan sekadar gagasan rasional, melainkan panggilan rasa yang terdalam.
“Cinta bukan sekadar akal atau
teks, tapi rasa. Suara hati yang harus dihidupkan dalam setiap proses
pembelajaran,” tambahnya.
Ia juga menjelaskan bahwa sistem
pendidikan harus mampu mengasah kepekaan nurani, bukan semata kecerdasan
kognitif. Guru, menurutnya, tidak cukup hanya mengajarkan cinta, tapi harus
menjadi teladan dalam mencintai melalui tindakan nyata. (Arief)