Indragiri
Hulu (Kemenag) – Sabtu (20/9/2025), Kepala Seksi Pendidikan Madrasah (Kasi
Penmad) Kankemenag Kabupaten Indragiri Hulu secara resmi membuka kegiatan Kelompok
Kerja Madrasah (KKM) MI Bimbingan Teknis Pembelajaran dengan Pendekatan
Learning dan Kurikulum Berbasis Cinta dalam Kurikulum Merdeka Tahun Pelajaran
2025/2026. Kegiatan ini diikuti seluruh Madrasah Ibtidaiyah (MI) se-Kabupaten
Inhu dengan tujuan memperkuat implementasi Kurikulum Merdeka yang lebih humanis
dan berorientasi pada pengembangan karakter siswa.
Dalam
sambutannya, Kasi Penmad menegaskan bahwa pendidikan agama tidak hanya
menekankan aspek kognitif, tetapi juga menanamkan nilai kasih sayang dan
kepedulian. “Kurikulum Berbasis Cinta ini menekankan bahwa belajar tidak boleh
menekan, melainkan menumbuhkan. Guru dituntut untuk menjadi teladan yang penuh
cinta, karena dari situlah tumbuh karakter peserta didik yang berakhlak mulia,”
ujarnya.
Kegiatan
ini turut menghadirkan Ketua FKKMI Kabupaten Inhu Hj. Umi Sarah (Kepala MIN 2
Inhu), Plt. MIN 1 Inhu Nofrita Nursal, serta Pengawas Madrasah Yeni Suryani
Samaun sebagai narasumber utama. Yeni menekankan bahwa pendekatan berbasis
cinta sangat relevan dalam Kurikulum Merdeka, karena membuka ruang bagi siswa
untuk belajar sesuai minat dan potensinya, tanpa kehilangan nilai-nilai
spiritual dan moral.
Dampak
langsung dari kegiatan ini adalah meningkatnya kapasitas guru dalam menerapkan
metode pembelajaran yang lebih inklusif, empatik, dan menyenangkan. Sementara
dampak tidak langsungnya, masyarakat akan merasakan hadirnya generasi madrasah
yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berkarakter baik dan
peduli pada lingkungan sosialnya.
Salah
seorang guru peserta kegiatan menuturkan, “Selama ini kami sering fokus pada
target akademik. Lewat bimtek ini, kami belajar bahwa menumbuhkan cinta dan
kasih sayang di kelas justru bisa membuat siswa lebih bersemangat belajar dan
saling menghargai.”
Dengan
pembekalan ini, Kemenag Inhu berharap madrasah tidak hanya menjadi pusat
transfer ilmu, tetapi juga laboratorium akhlak dan kasih sayang. Pada akhirnya,
kurikulum berbasis cinta akan melahirkan generasi muda yang berdaya saing
sekaligus berjiwa rahmatan lil ‘alamin.
(Reski)