Kuansing (Kemenag) – Kementerian Agama Kabupaten Kuantan Singingi terus mendorong kemandirian ekonomi pondok pesantren melalui program Santripreneur dan pembentukan Unit Pengumpul Zakat (UPZ). Kegiatan ini berlangsung pada Senin (10/11/2025) di Aula Kantor Kemenag Kuansing, Beringin, Teluk Kuantan, dengan peserta para pimpinan pondok pesantren se-Kabupaten Kuansing.
Kegiatan pembinaan pimpinan pondok pesantren ini dibuka langsung oleh Kepala Kantor Kemenag Kuansing, Suhelmon, dan didampingi oleh Kepala Seksi Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan Islam, Burdianto, serta turut menghadirkan perwakilan dari BAZNAS Kuantan Singingi sebagai mitra sinergi dalam penguatan ekonomi pesantren.
Dalam sambutannya, Suhelmon menyampaikan apresiasi kepada seluruh pimpinan pondok pesantren dan Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) atas suksesnya rangkaian kegiatan Hari Santri Nasional yang baru saja dilaksanakan. Ia menegaskan, keberhasilan tersebut tidak lepas dari kontribusi semua pihak yang bekerja sama dengan semangat kebersamaan dan keikhlasan.
“Saya ucapkan terima kasih kepada seluruh pimpinan pondok pesantren dan FKPP atas suksesnya peringatan Hari Santri. Semua berjalan lancar berkat kontribusi kita bersama, baik besar maupun kecil,” ujar Suhelmon di hadapan para peserta.
Lebih lanjut, Suhelmon menekankan pentingnya partisipasi pondok pesantren dalam program pembentukan UPZ Pesantren, sebagai bagian dari optimalisasi pengelolaan dana zakat di lingkungan pesantren. Menurutnya, zakat merupakan dana umat yang harus dikelola secara amanah untuk kepentingan umat, terutama dalam penguatan ekonomi dan kesejahteraan santri.
“Sambutlah program UPZ ini dengan baik, karena dana zakat adalah dana umat dan untuk umat. Kolaborasi ini menjadi peluang besar bagi pondok pesantren untuk memperluas manfaatnya bagi masyarakat,” tambahnya.
Selain itu, Kemenag Kuansing bersama BAZNAS juga memperkenalkan program Santripreneur, yaitu program pemberdayaan keterampilan bagi santri agar memiliki kemampuan wirausaha setelah menimba ilmu di pesantren. Program ini diharapkan melahirkan santri yang mandiri, produktif, dan mampu berkontribusi aktif dalam pembangunan ekonomi masyarakat.
Suhelmon menutup arahannya dengan ajakan agar seluruh pimpinan pondok pesantren mendukung program ini secara nyata. “Santripreneur bukan hanya tentang pelatihan, tetapi tentang masa depan santri. Pendidikan di pondok harus diiringi keterampilan hidup agar mereka siap terjun ke masyarakat. Di sinilah peran penting kolaborasi dengan BAZNAS,” tutupnya. (YZG)