0 menit baca 0 %

Kemenag Riau Intensif Dampingi Kampung Zakat, Pastikan Manfaat Nyata bagi Umat

Ringkasan: Riau (Kemenag) Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Riau menegaskan komitmennya untuk terus melakukan pendampingan intensif terhadap empat Kampung Zakat yang telah diresmikan di Riau, yakni di Kabupaten Indragiri Hilir, Kepulauan Meranti, Rokan Hulu, dan Bengkalis.Kepala Kanwil Kemenag Riau, Dr...

Riau (Kemenag) – Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Riau menegaskan komitmennya untuk terus melakukan pendampingan intensif terhadap empat Kampung Zakat yang telah diresmikan di Riau, yakni di Kabupaten Indragiri Hilir, Kepulauan Meranti, Rokan Hulu, dan Bengkalis.

Kepala Kanwil Kemenag Riau, Dr. H. Muliardi, menyampaikan bahwa upaya pendampingan sangat penting agar keberadaan Kampung Zakat tidak berhenti pada peresmian, melainkan benar-benar memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.

“Kampung Zakat bukan hanya simbol. Yang kita lakukan sekarang adalah memastikan program berjalan, usaha-usaha masyarakat tumbuh, dan manfaat zakat benar-benar dirasakan. Ada kelompok yang berkembang baik, ada juga yang menghadapi kendala. Semua ini harus kita dampingi dengan solusi konkret,” tegas Muliardi, Kamis (11/9/2025) di Pekanbaru.

Ia menambahkan, berbagai potensi lokal di setiap daerah menjadi kekuatan besar jika dikelola dengan sinergi bersama Baznas, LAZ, pemerintah daerah, serta tokoh masyarakat. “Kita ingin Kampung Zakat menjadi pusat pemberdayaan, baik dalam bidang ekonomi, pendidikan, dakwah, kesehatan, maupun sosial kemanusiaan,” ujarnya.

Sebelumnya, Kanwil Kemenag Riau melalui Bidang Penaiszawa melakukan pendampingan langsung ke Kampung Zakat Sungai Cina, Kabupaten Kepulauan Meranti. Dari hasil kunjungan, kelompok usaha mie sagu dan budidaya ikan nila menunjukkan perkembangan positif, sementara kelompok tambak ikan menghadapi kendala karena faktor lokasi, banjir, dan minim listrik.

Di Indragiri Hilir, Desa Sungai Beringin di Tembilahan telah ditetapkan sebagai Program Percontohan Daerah Binaan oleh Ditjen Bimas Islam Kemenag RI. Program ini dirancang selama tiga tahun dengan fokus pada pemberdayaan ekonomi, dakwah, pendidikan, kesehatan, dan sosial kemanusiaan hingga masyarakat mandiri.

Sementara itu, di Rokan Hulu, Kampung Zakat hadir dengan penguatan sektor pertanian dan perkebunan. Potensi sawit, karet, hingga usaha kecil masyarakat menjadi fokus pembinaan agar zakat produktif bisa mendorong ekonomi desa sekaligus membuka lapangan kerja.

Di Bengkalis, Kampung Zakat lebih diarahkan pada penguatan usaha perikanan dan usaha kecil berbasis keluarga. Wilayah pesisir dengan hasil laut melimpah menjadi modal besar yang kini mulai diberdayakan melalui dana zakat dan pendampingan berkelanjutan.

Kabid Penaiszawa Kanwil Kemenag Riau, H. Mas Jekki Amri, menegaskan bahwa pendampingan keempat Kampung Zakat itu disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan masyarakat di masing-masing daerah.

“Di Kepulauan Meranti, khususnya di Desa Sungai Cina, kita mendapati kelompok usaha mie sagu dan budidaya ikan nila sudah menunjukkan perkembangan yang baik. Namun, kelompok tambak ikan masih menghadapi kendala serius akibat lokasi yang kurang mendukung, sering banjir, serta keterbatasan listrik,” ungkapnya.

Sementara itu, di Indragiri Hilir, Desa Sungai Beringin di Tembilahan mendapat perhatian khusus karena telah ditetapkan sebagai Program Percontohan Daerah Binaan oleh Ditjen Bimas Islam. “Program ini dirancang selama tiga tahun dengan fokus pada pemberdayaan ekonomi, dakwah, pendidikan, kesehatan, dan sosial kemanusiaan. Harapannya, setelah program selesai, masyarakat benar-benar bisa mandiri,” jelas Mas Jekki.

Untuk Rokan Hulu, Kampung Zakat di Desa Sialang Jaya, Kecamatan Rambah, diarahkan pada pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Program ini tidak hanya menyasar sektor ekonomi, tapi juga pendidikan, kesehatan, serta perbaikan infrastruktur dasar. 

“Ada dukungan modal usaha bagi UMKM, bantuan pendidikan untuk anak-anak, serta pelatihan bagi masyarakat dewasa. Langkah ini diharapkan dapat menciptakan ekonomi mandiri yang berkelanjutan,” paparnya.

Adapun di Bengkalis, Kampung Zakat Desa Boncah Mahang, Kecamatan Bathin Solapan, memiliki potensi besar karena letaknya strategis dan masyarakatnya yang heterogen namun tetap menjunjung tinggi toleransi. 

“Program ini kita jalankan bersama Baznas dan berbagai pihak. Bahkan sudah ada dukungan berupa bantuan Rp200 juta untuk memperkuat kegiatan. Fokusnya adalah pemenuhan hak dasar masyarakat, mulai dari pendidikan, kesejahteraan, perlindungan sosial, hingga pembinaan mental. Harapannya manfaat ini benar-benar bisa dirasakan seluruh warga,” ujarnya.

Menurut Mas Jekki, keberhasilan Kampung Zakat tidak cukup diukur dari banyaknya bantuan yang diberikan, melainkan dari kemampuan masyarakat untuk berdaya dan mandiri. “Dengan dukungan berkelanjutan dan sinergi semua pihak—pemerintah, Baznas, LAZ, tokoh masyarakat, hingga penerima manfaat—kita optimis Kampung Zakat di Riau dapat menjadi model pemberdayaan umat yang nyata, berkelanjutan, dan membawa maslahat luas bagi generasi mendatang,” tutupnya. (*)