Siak (Kemenag) – Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten
Siak, Erizon Efendi, menegaskan bahwa guru madrasah dituntut untuk bersikap dinamis
dan adaptif dalam menghadapi perubahan zaman, khususnya dalam penerapan
Kurikulum Merdeka yang berlandaskan nilai cinta dan pembelajaran mendalam (deep
learning).
Penegasan tersebut disampaikan saat beliau membuka secara
resmi Pelatihan dan Pemantapan Pembelajaran Mendalam yang digelar di Aula
Kantor Camat Sabak Auh, Jumat (12/12/2025).
Kegiatan yang ditaja oleh KKG 003 MIN 1 Siak dan MGMP MTs
GUPPI Bandar Sungai ini berlangsung selama dua hari, Jumat–Sabtu (12–13
Desember 2025), dengan diikuti 65 peserta dari berbagai madrasah di bawah
naungan Kementerian Agama Kabupaten Siak, di antaranya MIN 1 Siak, MI PP AMTI,
MI Hubbul Wathan, dan MTs GUPPI Bandar Sungai.
Dalam sambutannya, Erizon Efendi menekankan bahwa pendidik
masa kini tidak cukup hanya menjalankan peran sebagai pengajar. “Masih banyak
guru yang hanya berada pada level pengajar, padahal yang dibutuhkan saat ini
adalah pendidik,” tegasnya.
Menurutnya, Kurikulum Merdeka menuntut guru untuk mampu
merancang pembelajaran mendalam yang berlandaskan tiga komponen utama, yakni berkesadaran,
bermakna, dan menggembirakan. Konsep tersebut harus dipahami secara matang agar
guru siap menghadapi keberagaman kondisi peserta didik di kelas.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya evaluasi dalam
proses pembelajaran. Pembelajaran tanpa evaluasi dinilai tidak akan memberikan
hasil maksimal. Evaluasi diperlukan untuk mengukur keberhasilan metode,
kesesuaian dengan kondisi siswa, serta dukungan sarana dan prasarana
pembelajaran. “Sarana belajar yang memadai sangat menentukan keberhasilan
pembelajaran,” tambahnya.
Sementara itu, instruktur pelatihan, Jaini, S.Pd., M.M,
memaparkan pentingnya penerapan pola pikir bertumbuh (growth mindset),
yakni keyakinan bahwa kecerdasan dan keterampilan dapat dikembangkan melalui
proses belajar dan usaha. Hal ini berbanding terbalik dengan fixed mindset
yang cenderung membatasi potensi diri.
Ia juga menegaskan bahwa pembelajaran abad ke-21 menekankan
kolaborasi antara guru, siswa, orang tua, dan sesama pendidik. Tujuan akhirnya
adalah tercapainya keterampilan 4C, yaitu critical thinking, creativity,
innovation, dan collaboration.
Pelatihan ini mendapat respons positif dari para peserta. Muhtarom,
salah satu guru MIN 1 Siak, mengungkapkan bahwa pembelajaran yang selama ini
dilakukan masih berada pada level surface learning. Nurul Nikmah
menambahkan, pembelajaran mendalam sangat penting agar siswa tidak sekadar
menghafal, tetapi benar-benar memahami esensi materi.
Sementara itu, M. Syahrul Anwar menyatakan bahwa pelatihan
ini memberikan pemahaman baru tentang penyusunan asesmen formatif dan sumatif
yang tidak hanya menilai hasil akhir, tetapi juga proses belajar. Sebagai
penutup, Mirda Indriani menegaskan bahwa esensi merdeka belajar adalah
menyesuaikan pembelajaran dengan kompetensi masing-masing murid agar setiap
potensi dapat dioptimalkan. (Syahrul/Fz)