0 menit baca 0 %

Keutuhan NKRI Terletak Pada Kerukunan Umat Beragama

Ringkasan: Pekanbaru (Humas)- Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) bisa tetap utuh disebabkan oleh kerukunan umat beragama yang ada di Indonesia. Konflik yang terjadi selama ini pada umumnya lebih dilatarbelakangi oleh motif ekonomi dan kesenjangan sosial, dan bukan faktor agama itu sendiri.
Pekanbaru (Humas)- Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) bisa tetap utuh disebabkan oleh kerukunan umat beragama yang ada di Indonesia. Konflik yang terjadi selama ini pada umumnya lebih dilatarbelakangi oleh motif ekonomi dan kesenjangan sosial, dan bukan faktor agama itu sendiri. Kakanwil Kemenag Prov. Riau Drs. H. Asyari Nur, SH,MM menyampaikan hal tersebut ketika membuka acara Dialog Pengembangan Wawasan Multikultural Antar Umat Beragama Bagi Pemimpin Agama, Pemuda, dan Mahasiswa Lintas Agama di Hotel Furaya, Rabu (25/1). Acara yang yang berlangsung selama dua hari (25-26 Januari) ditaja oleh Pusat Kerukunan Umat Beragama, Dialogue Centre Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan Subbag Hukmas & KUB Kanwil Kemenag Prov. Riau "Keutuhan Negara Indonesia ini terletak pada keutuhan kerukunan umat beragama. Rukun dan harmonisnya umat beragama berandil besar sehingga Republik Indonesia tetap eksis sampai kini. Justru oleh karena kepentingan-kepentingan lainlah agama di jadikan politik, alat untuk mencapai tujuan", kata Kakanwil. Dikatakannya kondisi kerukunan secara alami sudah terbentuk dengan sendirinya akibat faktor sosial ekonomi. "Sebagai contoh bisa kita lihat bagaimana kerukunan yang terbentuk antara umat Islam dan umat Budha. Secara historis keduanya bisa hidup berdampingan karena faktor ekonomi. Interaksi yang sudah terjadi selama bertahun-tahun antara penjual yang Budha atau Konghucu dengan pembeli yang Melayu (Islam) serta merta menjadi pendorong timbulnya rasa persaudaraan dan kerukunan itu. Faktor inilah yang sangat besar pengarunya dalam keharmonisan hubungan umat bergama. Di mal-mal dan pusat perbelanjaan misalnya, ketika waktu sholat Jum’at diadakan seluruh lokasi pertokoan dijadikan tempat sholat dan tak pernah sedikitpun terjadi konflik. Karena itulah ada bebera lokasi yang sangat potensial dikembangkan menjadi kampung atau zona kerukunan terutama di perkampungan minoritas. Konsep zona kerukunan ini dirancang sehingga di wilayah tersebut terwakili seluruh agama dengan aktifitas masing-masing tanpa menggangu umat lain", paparnya. Menurut Asyari ada beberapa wilayah di Riau yang sifat dan karakter kerukunan umat beragamanya sangat berbeda dengan daerah lain sesuai dengan kondisi, waktu dan tempat. "Sebagai contoh misalnya di daerah Kandis (Kabupaten Bengkalis), sejak dari awalnya ketika pembukaan lahan baru, sudah dihuni oleh umat kristen yang membuka lahan dan mendirikan gereja. Rumah ibadah sudah berdiri dahulu. Antara geraja dan jemaatnya dengan penduduk tempatan hampir tidak pernah terjadi konflik karena masing-masing sudah memahami agama, adat dan tradisi masing-masing. Mereka bisa hidup berdampingan dan bekerjasama dalam berbagai kegiatan. Tak ada peselisihan, justru para pendatang yang datang kemudianlah seringkali menjadi pemicu konflik di sana karena tidak memahami budaya setempat", jelasnya. (as).