Kampar (kemenag) Sabtu (26/07/2025) – Pondok Pesantren Al-Ihsan Boarding School Riau kembali menggema dengan semangat awal tahun ajaran baru melalui kegiatan Khutbatul Arsy, sebuah tradisi pembukaan tahun pelajaran sekaligus ajang perkenalan pondok bagi seluruh santri baru dan lama, baik putra maupun putri.
Khutbatul Arsy merupakan agenda rutin yang dilaksanakan sebagai pembukaan resmi tahun pelajaran di pesantren. Acara ini bukan hanya menjadi simbol dimulainya aktivitas belajar mengajar, tetapi juga sarana mengenalkan kehidupan pondok secara menyeluruh, termasuk orientasi nilai-nilai dasar pesantren.
Kegiatan ini diikuti oleh seluruh santri putra dan putri Al-Ihsan Boarding School Riau. Upacara pembukaan dipimpin oleh Kepala Sekolah MAS Al-Ihsa, Misran, S.E.Sy untuk bagian akhwat (putri), dan oleh pimpinan pondok, KH. Khairuddin, Lc, untuk bagian ikhwan (putra).
Kegiatan Khutbatul Arsy ini dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 26 Juli 2025.
Kegiatan ini berlangsung di lingkungan Pondok Pesantren Al-Ihsan Boarding School, Riau.
Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan bekal awal kepada para santri mengenai kehidupan pesantren, seperti pengaturan waktu, rutinitas harian, dan pemahaman mendalam tentang orientasi pendidikan pondok yang didasarkan pada lima dasar utama: Panca Bina, Panca Pilar, Panca Mutu, Panca Jiwa, dan Panca Jangka. Semua ini dimaksudkan agar santri memahami falsafah pondok dan tidak salah niat dalam menuntut ilmu di pesantren.
Kegiatan dibuka dengan upacara resmi yang penuh khidmat. Dalam amanatnya, KH. Khairuddin, Lc menyampaikan pesan-pesan inspiratif:
1. Bahwa menuntut ilmu di pesantren adalah bagian dari proses Allah dalam membentuk pribadi pejuang peradaban.
2. Pesantren harus terus berinovasi agar mampu melahirkan santri yang sholeh, peduli, dan siap memimpin.
3. Hidup di pesantren adalah kesempatan untuk menyusun bekal akhirat sebagaimana kita menata kehidupan dunia.
4. Kesuksesan tidak bisa diraih tanpa perjuangan dan pengorbanan, sebagaimana proses menuntut ilmu.
Pesan-pesan ini menjadi penguat nilai-nilai perjuangan dan kedisiplinan dalam kehidupan santri.
(zaipul/HumasIbs)
Catatan : Imus
1. Beritanya bagus, tapi masih bersifat narasi tanpa nara sumber, jadi terkesan seperti oponi yang menggambarkan sesuatu. Jadi..., unsur Who, dalam berita tidak disebutkan, siapa yang jadi narasumber berita