0 menit baca 0 %

Kolaborasi Cegah Karhutla, Penyuluh Kemenag Siak dan Polri Turun Langsung ke Masyarakat

Ringkasan: Siak (Kemenag) - Menghadapi cuaca panas ekstrem yang berisiko memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla), berbagai pihak terus meningkatkan upaya preventif. Salah satunya datang dari kolaborasi aktif antara Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama Kecamatan Tualang dan Kepolisian Sektor Tualang.

Siak (Kemenag) - Menghadapi cuaca panas ekstrem yang berisiko memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla), berbagai pihak terus meningkatkan upaya preventif. Salah satunya datang dari kolaborasi aktif antara Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama Kecamatan Tualang dan Kepolisian Sektor Tualang.

Menurut Kapolsek Tualang, Kompol Hedrix, melalui Bhabinkamtibmas Kampung Pinang Sebatang Timur (PST), upaya pencegahan karhutla saat ini menjadi perhatian serius pemerintah. Masyarakat diminta untuk tidak melakukan pembakaran lahan dalam bentuk apapun, karena tindakan tersebut dapat berujung pada sanksi hukum.

“Pemerintah, melalui Kepolisian RI, tidak akan mentolerir tindakan pembakaran lahan. Sanksi tegas menanti para pelaku,” tegas Bhabinkamtibmas PST saat menghadiri kegiatan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) di Aula PST, Selasa (22/7).

Merespons hal ini, Penyuluh Agama Islam dari KUA Tualang, Rinaldi, langsung bergerak melakukan pendekatan keagamaan kepada masyarakat sebagai bentuk edukasi pencegahan karhutla.

“Setelah berdiskusi dengan pihak kepolisian dalam forum RKP, kami langsung turun ke lapangan memberikan penyuluhan kepada warga dengan pendekatan keagamaan. Islam mengajarkan untuk menjaga bumi dan menyebarkan kebaikan, bukan merusak dengan membakar lahan,” ujar Rinaldi saat memberikan sosialisasi kepada jamaah Mushalla Al-Mukhsinin PST, Rabu (23/7).

Kegiatan ini tidak akan berhenti di satu titik. Rinaldi menyebut pihaknya telah merancang program lanjutan, termasuk pelatihan penanggulangan kebakaran bagi kelompok ibu-ibu pengajian binaan. “Kami sedang mengagendakan pelatihan dasar penanggulangan kebakaran bagi ibu-ibu kelompok perwiritan. Diharapkan mereka dapat bertindak cepat dan tepat bila menghadapi kebakaran kecil di sekitar lingkungan mereka,” jelas Rinaldi.

Dengan kolaborasi lintas sektor dan pendekatan kultural berbasis agama, diharapkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya karhutla semakin meningkat dan mampu mencegah bencana sejak dini. (Rel/Fz)