Kampar (Kemenag) – Dalam rangka memperkuat langkah dalam
mewujudkan tagline Kampar Negerinya Para Santri, Kepala Kantor Kemenag Kampar
Fuadi Ahmad bersama dengan pihak-pihak terkait sudah memulai membentuk garis
besar. Salah satunya dengan merancang akan dilaksanakannya MGMP (Musyawarah
Guru Mata Pelajaran) Nahu Sharaf untuk guru-guru Pondok Pesantren
se-Kabupaten Kampar.
Rapat yang dilaksanakan di Ruang Kepala Kantor Kemenag
Kampar pada Selasa (26/11/2024) ini dihadiri oleh pihak-pihak terkait. Yakni Kepala
Seksi PD Pontren Ahmad Fadhli, Ketua Umum MUI Kab.Kampar yang diwakili oleh
Wakil Ketua Umum In Syaher, Sekretaris Umum MUI Kab.Kampar Syamsuatir, dan
Ketua Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) Muhammad Amin.
Dalam pertemuan tersebut, Fuadi sangat menyambut baik
rancangan ini karena sangat sejalan dengan visi Kemenag Kampar saat ini dalam
mengkampanyekan Kampar sebagai Negeri Santri. Fuadi menilai bahwa pembentukan
MGMP untuk guru-guru yang ada di Pondok Pesantren, akan memberikan wadah baru
untuk memfasilitasi guru mata pelajaran yang sama dalam mengembangkan
profesionalitas kerjanya.
“Terlebih lagi dalam institusi pendidikan agama Islam
di Pesantren ini ada satu ciri khas yakni guru/ustadz/ustadzah yang mengajar
Kitab Kuning. Bisa kita bayangkan nanti ketika kegiatan MGMP sudah berjalan,
akan menghadirkan guru untuk membaca Kitab Kuning yang semakin berkualitas,”
ujar Fuadi.
Sementara itu, In Syaher selaku Wakil Ketua MUI
Kab.Kampar juga menyatakan hal serupa dan mendukung untuk digelarnya MGMP guru
Pondok Pesantren ini. “Ciri utama dari seorang ulama yakni penguasaan terhadap
Kitab Kuning. Melalui kegiatan ini juga, akan lahirlah para ulama-ulama dari
Kabupaten Kampar yang paham dengan Kitab Kuning tersebut dan sejalan dengan
image Kampar sebagai Serambi Mekkah dan menyongsong pula image untuk Kampar
sebagai Negeri Santri,” imbuhnya.
“Dari 5 syarat utama untuk pendirian Pondok Pesantren,
diantaranya yaitu adanya kurikulum pembelajaran Kitab Kuning. Inilah yang
membedakan antara Pesantren dengan institusi pendidikan lainnya. Tidak afdhol
rasanya ketika sebuah Pesantren masih ada yang tidak memiliki pembelajaran
membaca Kitab Kuning tersebut. Sementara persoalan sekarang, sulitnya mencari
guru-guru untuk baca Kitab Kuning. Sangat besar harapan saya untuk persoalan
ini bisa dipecahkan melalui MGMP tersebut,” Muhammad Amin selaku Ketua FKPP Kampar
juga menyampaikan pendapatnya.
MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) adalah wadah
bagi guru mata pelajaran yang sama untuk berdiskusi, bertukar pengalaman, dan
meningkatkan kompensi. Kegiatan-kegiatan yang bisa dilakukan dalam MGMP juga
beragam. Diantaranya mengadakan pelatihan-pelatihan, workshop, rapat kerja,
menyusun program pembelajaran, dan mengembangkan materi pembelajaran. Dengan
saling bertukar pikiran serta menyusun program-program bermutu, kehadiran MGMP
di kalangan guru Pesantren diharapkan memberikan ruang gerak serta nafas dalam
mewujudkan santri-santri yang berbekal ilmu tajam khususnya ilmu agama Islam. Sehingga
nantinya generasi santri akan mampu bersaing dan menjamur di tiap-tiap sudut
daerah, menjadikan Kampar berpeluang semakin besar sebagai sumber pendidikan
keagaaman Islam yang terpercaya.
(Cicy/Fatmi/Agus)