0 menit baca 0 %

Kurikulum Berbasis Cinta dengan Deep Learning Mulai Diterapkan di Madrasah Indragiri Hulu

Ringkasan: Indragiri Hulu (Kemenag) Upaya meningkatkan kualitas pendidikan madrasah di Indragiri Hulu kembali diwujudkan melalui pembukaan In House Training (IHT) Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dengan Pendekatan Deep Learning. Kegiatan ini dilaksanakan di Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Khairul U...

Indragiri Hulu (Kemenag) – Upaya meningkatkan kualitas pendidikan madrasah di Indragiri Hulu kembali diwujudkan melalui pembukaan In House Training (IHT) Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dengan Pendekatan Deep Learning. Kegiatan ini dilaksanakan di Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Khairul Ummah, Desa Batu Gajah, Kecamatan Pasir Penyu, pada Kamis (11/9/2025), bekerja sama dengan Loka Pendidikan dan Pelatihan Keagamaan Pekanbaru.

IHT ini dibuka langsung oleh Pimpinan Ponpes Khairul Ummah sekaligus Ketua Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) Kabupaten Indragiri Hulu, Buya Abdul Kemal Batubara, didampingi Direktur LPMP Ustaz Eko Purwanto, Auditor Internal Ustaz Adi Candra, Kepala Madrasah Ustaz Edi Efendi, serta menghadirkan pemateri Tiffani. Peserta yang hadir merupakan guru-guru dari beberapa madrasah binaan Pengawas Madrasah Kankemenag Inhu, Suparman, meliputi MA Ponpes Asy Syaakirin, MA PP Tahfizh Yanbu’ul Qur’an, MA PP Nurul Huda, MAS Miftahul Jannah, MAS Nurul Iman, dan MAS Hismar.

Dalam sambutannya, Buya Abdul Kemal menegaskan bahwa penerapan kurikulum berbasis cinta adalah langkah strategis untuk membangun suasana belajar yang humanis sekaligus relevan dengan tantangan zaman. “Pendidikan di pesantren dan madrasah bukan sekadar transfer ilmu, tetapi juga menumbuhkan cinta, baik kepada ilmu, sesama, maupun kepada Allah. Dengan pendekatan deep learning, santri tidak hanya paham teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan nyata,” ujarnya.

Pendekatan baru ini diharapkan mampu mengubah pola pembelajaran dari sekadar hafalan menuju pemahaman yang mendalam, kreatif, dan solutif. Dampaknya bukan hanya pada peningkatan prestasi akademik, tetapi juga pada terbentuknya karakter santri yang lebih inklusif, kritis, dan siap menghadapi perkembangan sosial.

Direktur LPMP, Ustaz Eko Purwanto, menambahkan bahwa keberhasilan implementasi kurikulum ini akan sangat bergantung pada kesiapan guru. “Guru harus menjadi teladan dan mampu menghadirkan kelas yang hidup. Kegiatan IHT ini adalah pintu awal, agar madrasah di Indragiri Hulu bisa bersaing secara kualitas dengan lembaga pendidikan lain, baik di tingkat lokal maupun nasional,” ujarnya.

Bagi masyarakat, penerapan KBC dengan pendekatan deep learning ini diharapkan memberikan dampak jangka panjang berupa lahirnya generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berakhlak mulia. Dengan begitu, pesantren dan madrasah tetap menjadi pusat lahirnya pemimpin masa depan yang berakar pada nilai-nilai agama sekaligus adaptif terhadap perubahan zaman.

(Reski)