Kampar ( Kemenag)--Di bawah langit tenang Hari Arafah yang penuh rahmat, suara lembut lantunan Surah Yasin menggema dari satu sudut desa. Bukan sekadar rutinitas keagamaan, tapi sebuah momentum yang menyatukan hati dalam harap dan sujud.
Majelis Taklim Permata Jais menjadi tuan rumah kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan (Bimluh) Tingkat III bagi masyarakat khusus LPM, yang digelar penuh khidmatTak sekadar menyimak, para ibu dan tokoh perempuan hadir dengan hati terbuka, menganyam semangat baru dalam bingkai keislaman.
Dr. Mardiana, S.H.I., M.H., Penyuluh Agama Islam Fungsional Kecamatan Kampa, menjadi penyampai hikmah dalam kegiatan ini. Dalam paparannya yang sejuk namun tajam makna, beliau mengajak jamaah untuk kembali memaknai esensi ibadah, memperdalam pemahaman agama, dan menjadi agen kebaikan di tengah masyarakat.
“Kita tidak hanya butuh ilmu, tapi butuh cahaya. Dan cahaya itu lahir dari hati yang dekat dengan Allah,” tutur beliau, yang disambut anggukan penuh haru oleh para peserta.
Kegiatan ini diawali dengan membaca Surah Yasin bersama, sebagai bentuk ikhtiar spiritual memohon keberkahan, khususnya di hari Arafah—hari yang dikenal sebagai waktu mustajab untuk berdoa. Di antara doa-doa yang terlantun, terselip harapan untuk keluarga, negeri, dan generasi mendatang yang lebih baik.
Hj. Mardiah, Ketua Majelis Taklim Permata Jais, menyampaikan rasa syukurnya atas terlaksananya kegiatan ini. “Bimluh ini bukan hanya kegiatan seremonial, tapi sebuah penguatan jiwa. Semoga majelis kita tetap hidup, tumbuh, dan menjadi ladang amal yang berkelanjutan,” ujarnya.
Di akhir kegiatan, senyum hangat dan peluk kebersamaan menyertai para peserta. Kegiatan ini menjadi pengingat, bahwa dalam heningnya doa di hari Arafah, ada kekuatan besar yang bisa membangkitkan semangat baru untuk terus melangkah bersama, dalam cahaya iman.( Fatmi/Cicy/Ags )