0 menit baca 0 %

Lestarikan Budaya Melayu, MTs Nurul Jadid Praktekkan Tepuk Tepung Tawar di Kelas

Ringkasan: Bengkalis (Kemenag) Usaha untuk menjaga kelestarian budaya melayu, guru bidang studi Muatan Lokal Budaya Melayu Riau (BMR) MTs Nurul Jadid Dian Maratuti bersama 32 murid  kelas IX MTs Nurul Jadid mendemonstrasikan tata cara tepuk tepung tawar. Tradisi  yang merupakan salah satu dari adat Melayu Ri...

Bengkalis (Kemenag) – Usaha untuk menjaga kelestarian budaya melayu, guru bidang studi Muatan Lokal Budaya Melayu Riau (BMR) MTs Nurul Jadid Dian Maratuti bersama 32 murid  kelas IX MTs Nurul Jadid mendemonstrasikan tata cara tepuk tepung tawar. Tradisi  yang merupakan salah satu dari adat Melayu Riau tersebut dilaksanakan pada Rabu, 17/10/2024 di dalam ruang kelas madrasah.

Sebelumnya siswa telah mempersiapkan alat dan kelengkapan bahan seperti air tepung tawar, daun perinjis / bunga rampai, beras kuning, beras  putih, beras bertih, inai, dan kelengkapan telur merah, kompang, speaker, mangkuk sebagai wadah, pakaian Melayu dan kelengkapan lainnya..

Prosesi tepuk tepung tawar pun dilaksanakan oleh siswa kelas IX dengan ditunjuknya beberapa orang siswa yang bertugas seperti sebagai pembawa acara lengkap dengan pantunnya, sebagai pembacaan Al-Barzanji, sebagai penabuh kompang dan lain-lain.

Kepala MTs Nurul Jadid Sairozi dan Wakil Ketua Bidang Kesiswaan Kiptiah diminta secara hormat menepuk tepung tawari siswa yang telah ditunjuk hingga prosesi doa bersama secara adat istiadat budaya melayu.

Mengenai kegiatan tepuk tepung tawar ini, guru bidang studi muatan lokal budaya melayu Riau Dian Maratuti menyampaikan "Tepuk tepung tawar adalah bentuk pemberian do'a restu agar kita dijauhkan dari marabahaya dan dijauhkan dari  hal-hal  yang buruk. Kemudian kita didekatkan dengan hal-hal yang baik supaya memperoleh berkah berkepanjangan terutama bagi masyarakat Melayu. Prosesi tepuk tepung tawar merupakan salah satu tradisi dalam masyarakat Melayu yang selalu untuk mengiringi upacara seperti pesta perkawinan, khitanan, syukuran, dan beberapa upacara khusus lainnya".

"Siswa/i harus berani, tidak boleh ada takut, apalagi malu-malu, secara bersama-sama langsung kita praktekkan dengan harapan pengetahuan tentang prosesi tepuk tepung tawar ini dapat menjadi bekal bagi siswa/i untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari dan siswa lebih memahami, mencintai, dan melestarikan budaya dan kearifan lokal Melayu Riau." tegas Dian Maratuti

 

Sementara salah satu siswa kelas IX Atya Rahmah mengatakan "Dengan mempraktik secara langsung upacara tepuk tepung tawar ini kami dapat banyak pengalaman dan pelajaran yang sangat berharga  untuk  saat ini dan masa depan. Kegiatan praktik ini sungguh sangat menyenangkan mulai dari mempersiapkan segala keperluan bahan hingga saat praktik di kelas berlangsung".