0 menit baca 0 %

LINGKUNGAN HIDUP DALAM PERSPEKTIF AGAMA

Ringkasan: Persoalan lingkungan hidup adalah persoalan global dan bersifat universal, sebab berbicara tentang lingkungan hidup, berarti berbicara tentang persoalan yang dihadapi seluruh umat manusia. Persoalan lingkungan hidup pada umumnya disebabkan oleh dua hal.
Persoalan lingkungan hidup adalah persoalan global dan bersifat universal, sebab berbicara tentang lingkungan hidup, berarti berbicara tentang persoalan yang dihadapi seluruh umat manusia. Persoalan lingkungan hidup pada umumnya disebabkan oleh dua hal. Pertama, karena kejadian alam sebagai peristiwa yang harus terjadi sebagai proses dinamika alam itu sendiri. Kedua, karena ulah dan perbuatan tangan manusia sendiri, akibatnya alam murka dan terjadilah bencana. Dari sekian banyak persoalan kerusakan lingkungan hidup , ternyata peran manusia sangat besar dalam menciptakan kerusakan tersebut dan untuk itu, manusiapulalah yang paling banyak menanggung akibatnya. Demikian disampaikan Kepala Sub Bagian Hukum, Humas dan Kerukunan Umat Beragama Drs. H. Ahmad Supardi Hasibuan, MA pada Pelatihan Lingkungan Hidup Bagi Pemuka Agama Se Kota Dumai yang dilaksanakan oleh Kepala Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup Regional Sumatera, pada hari Senin, 1 Maret 2010 bertempat di Hotel Comfort Dumai. Hadir dalam kesempatan tersebut Walikota Dumai yang diwakili oleh Asisten III, Kepala Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup Regional Sumatera dan empat puluh orang pemuka agama Islam, Kristebn, Katolik, Hindu, Buddha dan Konghucu yang menjadi peserta pelatihan. Ahmad Supardi yang juga Sekretaris Umum Pimpinan Wilayah Dewan Masjid Indonesia (DMI) Provinsi Riau ini menjelaskan bahwa, semua agama pada dasarnya memberikan perhatian serius terhadap lingkungan hidup. Semua agama memberikan informasi spiritual kepada manusia untuk bersikap ramah terhadap lingkungan. Informasi tersebut memberikan sinyalamen bahwa manusia harus selalu menjaga dan melestarikan lingkungan agar tidak menjadi rusak, tercemar bahkan menjadi punah, sebab apa yang Tuhan berikan kepada manusia semata-mata merupakan suatu amanah. Agama mengajarkan kepada umatnya untuk bersikap ramah lngkungan. Sikap ramah lingkungan yang diajarkan oleh agama kepada manusia dapat dirinci sebagai berikut : Pertama, Agar manusia menjadi pelaku aktif dalam mengolah lingkungan serta melestarikannya. Kedua, agar manusia tidak berbuat kerusakan terhadap lingkungan. Ketiga, Agar manusia selalu membiasakan diri bersikap ramah terhadap lingkungan. Menghuni Syurga Karena Menanam Pohon Hasibuan yang juga Pengurus Nahdhatul Ulama Provinsi Riau ini lebih lanjut menjelaskan, bahwa dalam suatu kisah diriwayatkan, ada seorang penghuni surga. Ketika ditanyakan kepadanya perbuatan apakah yang dilakukannya ketika di dunia hingga ia menjadi penghuni surga. Dia menjawab bahwa selagi di dunia, ia pernah menanam sebuah pohon. Dengan sabar dan tulus, pohon itu dipeliharanya hingga tumbuh subur dan besar. Menyadari akan keadaannya yang miskin ia teringat bunyi sebuah hadits Nabi, Tidak seorang muslim yang menanam tanaman atau menyemaikan tumbuh-tumbuhan, kemudian buah atau hasilnya dimakan manusia atau burung, melainkan yang demikian itu adalah shodaqoh baginya. Didorong keinginan untuk bersedekah, maka ia biarkan orang berteduh di bawahnya, dan diikhlaskannya manusia dan burung memakan buahnya. Sampai ia meninggal pohon itu masih berdiri hingga setiap orang (musafir) yang lewat dapat istirahat berteduh dan memetik buahnya untuk dimakan atau sebagai bekal perjalanan. Burung pun ikut menikmatinya. Riwayat tersebut memberikan nilai yang sangat berharga sebagai bahan kontemplasi, artinya dengan adanya kepedulian terhadap lingkungan memberikan dua pahala sekaligus, yakni pahala surga dunia berupa hidup bahagia dan sejahtera dalam lingkungan yang bersih, indah dan hijau, dan pahala surga akhirat kelak di kemudian hari.Untuk mendapatkan dua pahala tersebut seorang manusia harus peduli terhadap lingkungan, apalagi manusia telah diangkat oleh Allah sebagai khalifah. Hal ini dapat dilihat pada surat Al-Baqarah ayat 30 berikut : Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. Kekhalifahan menuntut manusia untuk memelihara, membimbing dan mengarahkan segala sesuatu agar mencapai maksud dan tujuan penciptaanNya. Al-Quan tidak mengenal istilah penaklukan alam karena secara tegas Al-Quran menyatakan bahwa yang menaklukan alam untuk manusia adalah Allah. Secara tegas pula seorang muslim diajarkan untuk mengakui bahwa ia tidak mempunyai kekuasaan untuk menundukkan sesuatu kecuali dengan penundukan Allah.