Kampar ( Kemenag )---Semangat kemandirian dan kreativitas terus tumbuh di lingkungan Madrasah Aliyah (MA) Terantang. Madrasah ini berhasil memanfaatkan lahan sekitar sekolah menjadi area produktif, dan kini mulai memetik hasil berupa buah matoa yang ditanam beberapa tahun lalu.
Kepala MA Terantang, Sri Usman, menyampaikan rasa syukur dan bangga atas keberhasilan panen tersebut. Ia menjelaskan bahwa penanaman pohon matoa merupakan bagian dari upaya madrasah dalam mengoptimalkan potensi lingkungan sekitar agar memberikan nilai tambah bagi warga madrasah.
“Alhamdulillah, pohon matoa yang kami tanam sejak beberapa tahun lalu kini sudah berbuah lebat. Ini bukan hanya hasil alam, tetapi juga hasil kerja keras, kebersamaan, dan doa seluruh warga madrasah,” ujar Sri Usman
Buah matoa yang dipanen memiliki kualitas baik dan diminati masyarakat sekitar. Hasil penjualan buah tersebut menjadi sumber pendapatan tambahan bagi madrasah, yang nantinya akan dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan pembelajaran dan pengembangan fasilitas madrasah
Lebih dari sekadar keuntungan ekonomi, Sri Usman menegaskan bahwa kegiatan ini juga menjadi media pembelajaran karakter dan kewirausahaan bagi para siswa.
“Kami ingin menanamkan semangat kerja keras dan tanggung jawab kepada siswa. Mereka ikut menanam, merawat, hingga memanen. Jadi mereka tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi juga praktik langsung mengelola hasil alam,” jelasnya.
Inisiatif ini mendapat apresiasi dari masyarakat dan menjadi contoh positif bagi madrasah lain dalam memanfaatkan potensi lingkungan secara kreatif. Upaya tersebut sejalan dengan visi Kementerian Agama untuk membangun madrasah yang mandiri, berprestasi, dan berdaya saing.
Sri Usman berharap, keberhasilan panen matoa kali ini menjadi awal dari kemandirian ekonomi madrasah dan semakin mempererat hubungan antara madrasah dengan masyarakat sekitar.
“Insyaallah, ke depan kami akan terus mengembangkan potensi lingkungan lain yang bisa memberikan manfaat dan memberdayakan madrasah,” tutupnya penuh optimisme.
Panen matoa di MA Terantang menjadi bukti bahwa madrasah bukan hanya pusat pendidikan dan dakwah, tetapi juga pusat pemberdayaan yang mampu menyemai nilai kerja keras, kemandirian, dan keberkahan dari tanah sendiri.
( Fatmi )