0 menit baca 0 %

MAGHRIB MENGAJI ENTASKAN BUTA AKSARA AL-QUR AN DAN UPAYA CIPTAKAN GENERASI BERAKHLAK MULIA

Ringkasan: Indragiri Hulu, (Inmas). Berdasarkan Keputusan Dirjen Bimas Islam No.298 Tahun 2017 tentang Pedoman Penyuluh Agama Islam Non PNS dinyatakan bahwasanya specialisasi tugas kepenyuluhan ada  8 specialisasi yaitu, Penyuluh Pengentasan Buta Aksara Al-Qur an; Penyuluh Keluarga Sakinah; Penyuluh Pengelolaa...

Indragiri Hulu, (Inmas). Berdasarkan Keputusan Dirjen Bimas Islam No.298 Tahun 2017 tentang Pedoman Penyuluh Agama Islam Non PNS dinyatakan bahwasanya specialisasi tugas kepenyuluhan ada  8 specialisasi yaitu, Penyuluh Pengentasan Buta Aksara Al-Qur an; Penyuluh Keluarga Sakinah; Penyuluh Pengelolaan Zakat; Penyuluh Pemberdayaan Wakaf; Penyuluh Produk Halal; Penyuluh Kerukunan Umat Beragama; Penyuluh Radikalisme dan Aliran Sempalan dan Penyuluh NAPZA dan HIV/AIDS.
Terkait dengan pelaksanaan tugasnya, Penyuluh Agama Islam Non PNS melaksanakan penyuluhan kepada kelompok sasaran/binaan secara berkala.
Sebagaimana diketahui bahwasanya sebagai Penyuluh Agama Islam Non PNS Kementerian Agama Republik Indonesia, wajib memiliki minimal dua (dua) kelompok binaan penyuluhan.
Terkait dengan Pengentasan Buta Aksara Al-Qur an, Penyuluh Agama Islam Non PNS Kecamatan Rengat Barat, atas nama Muhammad Husni Firdaus, S.Pd.I terhadao kelompok binaannya melaksanakan Gerakan Maghrib Mengaji di Rumah Pendidikan Al-Qur an Al-Jannahtul Ula, Desa Pekanheran, Kecamatan Rengat Barat.
Aktifitas mengaji dan membaca Al-Qur an selepas shalat maghrib baik di masjid, mushalla maupun di rumah warga telah menjadi tradisi dan budaya umat Islam di Indonesia sejak lama. Namun seiring perkembangan zaman, tradisi teraebut mulai banyak ditinggalkan. Sehabis shalat maghrib, anak-anak dan remaja lebih senang menghabiskan waktu di depan televisi, bermain gadget atau bahkan keluyuran di jalan raya mengendarai sepeda motor yang suaranya dimodifikasi sehingga memekakkan  telinga. Bila hal tersebut dibiarkan secara terus-menerus, di masa yang akan datang, generasi yang ada adalah generasi yang rendah nilai spiritualnya dan pada akhirnya terjadi kerusakan moral terhadap generasi bangsa.
Melalui Gerakan Maghrib Mengaji, khususnya bagi anak-anak/generasi muda agar terbangun kembali semangat belajar membaca dan memahami kandungan Al-Qur an sehingga nilai-nilai spiritualnya tumbuh dan terjaga dengan baik.
Semoga melalui Gerakan Maghrib Mengaji, Upaya Pengentasan Buta Aksara Al-Qur an Tercapai dan Insya Allah Melahirkan Generasi Bangsa Yang Berakhlak Mulia.(tulang)