Pekanbaru (Kemenag) - Pondok pesantren patut belajar dari sosok Nabi
Ibrahim dan keluarganya yang banyak diabadikan di dalam Al Quran. Didalam Al
Quran terdapat empat pelajaran dari sosok Nabi Ibrahim tersebut. Pertama,
pada doa Nabi Ibrahim saat meninggalkan istri dan putranya di dekat ka’bah yang
saat itu belum ada manusia tinggal di sana. Beliau berdoa agar negeri tersebut
aman dan rezki yang cukup. Maka agar pesantren berjalan dengan baik, keamanan,
kenyamanan pemenuhan konsumtif di pesantren harus diperhatikan oleh pimpinan
pesantren”. Tutur Dr. H. Mawardi Muhammad Saleh, Lc, MA narasumber pada
kegiatan Silaturrahmi dam Rakor Pimpinan Pesantren Se Riau, Rabu (29/5/24) di
Pondok pesantren Al Kautsar Pekanbaru.
Mawardi juga mengatakan pelajaran kedua dari Doa Nabi Ibrahim yang dapat diambil yakni dijauhkan dari kemusyirikan.Â
“Kedua,
doa agar terjauhkan dari kemusyrikan. Artinya, pesantren harus menjadi tempat
pembinaan keimanan bagi santri. Pembentukan keiman tersebut berawal dari
shalat. Sehingga di pesantren bukan sekedar mendisiplinkan shalat lima waktu
dan shalat sunat lainnya, tetapi juga mendisiplinkan aplikasi dari nilai shalat
tersebut dalam kehidupan sosial”.
Lebih lanjut Mawardi mengatakan pelajaran ketiga dari Nabi Ibrahim yaitu
mendoakan agar anak keturunan menjadi pemimpin. artinya, seorang kyai dan
ustadz harus berusaha melahirkan santri yang akan menjadi pemimpin di masa yang
akan dating. dalam upaya melahirkan pemimpin, nabi ibrahim senantiasa
memberikan teladan kepada anak-anaknya. karena itu, seorang kyai dan ustadz harus
menjadi idola, teladan dan ikutan oleh para santrinya.
“Keempat, menjadi masjid sebagai titik sentral
pembinaan. Karena itu, pesantren harus mengoptimalkan fungsi masjid, sehingga
lahirlah santri yang cinta masjid dan setelah keluar dari pondok pesantren, dia
akan menghidupkan masjid dimanapun dia berada”.
Berkenaan dengan sanksi yang berlaku di Pesantren, Dr. Mawardi
mengingatkan agar berhati-hati, sehingga jangan sampai bertentang dengan HAM
dan peraturan yang berlaku di Negara kita. Berikanlah sanksi dengan latar
belakang cinta kasih dan mendidik, bukan sanksi yang dikendalikan kebencian dan
nafsu.