0 menit baca 0 %

Memasyarakatkan Kembali Kesenian Marawis

Ringkasan: Pekanbaru (Humas)- Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag Riau) mencoba membangkitkan kembali kesenian Marawis yang gaungnya sudah lama redup di Nusantra ini. Padahal, seni Marawis merupakan salah satu jenis kesenian yang sangat berjasa dalam peningkatan dakwah karena senafas dengan ajaran...
Pekanbaru (Humas)- Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag Riau) mencoba membangkitkan kembali kesenian Marawis yang gaungnya sudah lama redup di Nusantra ini. Padahal, seni Marawis merupakan salah satu jenis kesenian yang sangat berjasa dalam peningkatan dakwah karena senafas dengan ajaran Islam yang kerap ditampilkan dalam berbagai kegiatan ritual Islam tempo dulu. Upaya untuk membangkitkan kesenian khas Islam tersebut di Provinsi Riau ditandai dengan penampilan perdana Group Marawis dibawah binaan Ka Kanwil Kemenag Riau, Drs H Asyari Nur SH MM dan Kabid Urais Kanwil Kemenag Riau, Drs H Zulkifli pada acara Pentas Seni Budaya Islam (PSBI) Festival Rebana Kanwil Kemenag Riau tahun 2011 di Halaman Kanwil Riau Jalan Sudirman Pekanbaru kemarin. Asyari Nur mengatakan, Marawis dibawah binaannya tersebut baru terbentuk beberapa bulan lalu dan baru pertama kali ditampilkan dalam PSBI beberapa hari lalu. Untuk kedepan, kesenian Marawis akan terus dikembangkan dengan pembentukan grup-grup marawis di madrasah-madrasah, pesantren dan organisasi keagamaan yang ada di masyarakat. Karena kesenian marawis, banyak diminati oleh kaula muda terbukti dengan banyaknya grup marawis di Indonesia yang digawangi oleh generasi muda dari pondok pesantren atau madrasah. "Setidaknya di setiap madrasah atau pesantren memiliki satu grup marawis, karena memang pada dasarnya jenis kesenian ini digemari para santri. Tentunya marawis yang benar-benar bernuansa Islami dan tidak bertentangan dengan ketentuan sebuah grup marawis yang diperbolehkan oleh Agama Islam," jelas Asyari. Ia menambahkan, kesenian marawis berasal dari negara timur tengah terutama dari Yaman. Nama marawis diambil dari nama salah satu alat musik yang dipergunakan dalam kesenian bersangkutan. Secara keseluruhan, musik ini menggunakan hajir (gendang besar) berdiameter 45 cm dengan tinggi 60- 70 cm, marawis (gendang kecil) berdiameter 20 cm dengan tinggi 19 cm, dumbuk sejenis gendang yang berbentuk seperti dandang, memiliki diameter yang berbeda pada kedua sisinya, serta dua potong kayu bulat berdiameter sepuluh sentimeter. Kadang kala perkusi dilengkapi dengan tamborin atau krecek. Lagu-lagu yang berirama gambus atau padang pasir dinyanyikan sambil diiringi jenis pukulan tertentu Dalam Katalog Pekan Musik Daerah, Dinas Kebudayaan DKI 1997 lalu, terdapat tiga jenis pukulan atau nada, yaitu zapin, sarah, dan zahefah. Pukulan zapin mengiringi lagu-lagu gembira pada saat pentas di panggung, seperti lagu berbalas pantun. Nada zapin adalah nada yang sering digunakan untuk mengiringi lagu-lagu pujian kepada Nabi Muhammad SAW (shalawat). Tempo nada zafin lebih lambat dan tidak terlalu menghentak, sehingga banyak juga digunakan dalam mengiringi lagu-lagu Melayu. Pukulan sarah dipakai untuk mengarak pengantin. Sedangkan zahefah mengiringi lagu di majlis. Kedua nada itu lebih banyak digunakan untuk irama yang menghentak dan membangkitkan semangat. Dalam marawis juga dikenal istilah ngepang yang artinya berbalasan memukul dan ngangkat. Selain mengiringi acara hajatan seperti sunatan dan pesta perkawinan, marawis juga kerap dipentaskan dalam acara-acara seni-budaya Islam. Musik ini dimainkan oleh minimal sepuluh orang, setiap orang memainkan satu buah alat sambil bernyanyi. Terkadang, untuk membangkitkan semangat, beberapa orang dari kelompok tersebut bergerak sesuai dengan irama lagu. Semua pemainnya pria, dengan busana gamis dan celana panjang, serta berpeci. Uniknya, pemain marawis bersifat turun temurun. Sebagian besar masih dalam hubungan darah - kakek, cucu, dan keponakan. Sekarang hampir di setiap wilayah terdapat marawis. "Namun seiring perkembangan zaman, warawis juga bisa menampilkan perempuan sebagai penyanyi, dan ini yang coba kita padukan dalam grup marawis Riau," ungkapnya berharap agar marawis dapat ditampilkan dalam setiap kegiatan atau event keagamaan sebagai pembuka, sehingga khasanah khas islami semakin dirasakan oleh masyarakat. (msd)