Menag: Mengurus Haji Lebih Susah Dari Mengurus Pasukan
Ringkasan:
Pekanbaru (Humas)- Menteri Suryadharma Ali menegaskan bahwa penyelenggaraan haji yang dilaksanakan oleh Kementerian Agama sudah maksimal, meskipun di sana-sini masih terdapat banyak kekurangan. "Jangankan mengurus haji yang jemaahnya mencapai ratusan ribu, mengurus perhelatan kecil saja seumpama wal...
Pekanbaru (Humas)- Menteri Suryadharma Ali menegaskan bahwa penyelenggaraan haji yang dilaksanakan oleh Kementerian Agama sudah maksimal, meskipun di sana-sini masih terdapat banyak kekurangan. "Jangankan mengurus haji yang jemaahnya mencapai ratusan ribu, mengurus perhelatan kecil saja seumpama walimah masih dijumpai cacat dan kekurangan", papar Pak Menteri di sela-sela Acara Tasyakuran HAB ke-65 Kementerian Agama, Selasa malam (4/1).
Patut menjadi kesyukuran atas prestasi Kementerian Agama dalam mengelola haji di Indonesia dengan pemberian sertifikasi Sistem Manajemen Mutu (SMM) Internasional ISO 90012008. Keberhasilan memperoleh ISO itu, menurut Suryadharma Ali, merupakan jawaban atas kecaman kepada dirinya yang menyebut bahwa Kementerian Agama selalu berlindung dengan memanipulasi ajaran kesabaran kepada jemaah calon haji.
Kementerian Agama dinilai memanipulasi ajaran kesabaran. Karena itu, ia menantang bagi pare pengecam. Coba, mana ada negara yang mampu menggerakan orang sebanyak 2011 orang dalam sebulan. "Jika ada pasukan tentara dibawa dalam jumlah besar belum tentu dalam sebulan selesai. Kalau pun bisa, hal itu disebabkan karena tentara mudah digerakkan lantaran punya disiplin tinggi, kemampuan fisik prima dan peralatan lengkap. Karena itu seorang Dirjen Haji lebih hebat dari seorang Komandan NATO", ujarnya disambut tepuk tangan hadirin.
Berbeda dengan pelayanan haji, tutur dia, "Yang diberangkatkan beragam dari sisi usia, kemampuan intelek, kebiasaan (tidur, makan dan hobi). Mulai dari buta huruf sampai profesor. Dari yang bisa lima bahasa sampai kepada yang tak bisa berbahasa Indonesia. Bagaimana jika tak miliki kesabaran, untuk ke kamar mandi saja harus antri, tidur ada yang suka diawali ngobrol dan merokok, suka kipas angin dan mesin pendingin, dan sebagainya. Begitu juga memenuhi selera lidah orang dari 500 kabupaten/kota di Indonesia. Itu suatu pekerjaan yang tidak mudah", tambahnya.
Seharusnya, ucap Suryadharma, jajaran Kementerian Agama bangga dengan sukses yang dicapai saat ini. Sukses penyelenggaraan ibadah haji kebanyakan dilihat dari orang luar, namun dari dalam negeri justru kecaman. "Yang dilihat kekurangannya saja," ujar dia.(as).