0 menit baca 0 %

Menag RI: UIN di Indonesia Harus Bersatu Membuat Rumusan Pengoptimalan Zakat

Ringkasan: Pekanbaru (Humas)- Potensi zakat yang sangat besar di Indonesia merupakan instrumen yang sangat efektif untuk pengentasan kemiskinan umat. Namun hingga kini, potensi zakat tersebut belum mampu mengentaskan kemiskinan karena belum adanya rumusan-rumusan yang tepat untuk mengoptimalkan potensi yang ad...
Pekanbaru (Humas)- Potensi zakat yang sangat besar di Indonesia merupakan instrumen yang sangat efektif untuk pengentasan kemiskinan umat. Namun hingga kini, potensi zakat tersebut belum mampu mengentaskan kemiskinan karena belum adanya rumusan-rumusan yang tepat untuk mengoptimalkan potensi yang ada tersebut. Untuk itu, Universitas Islam Negeri (UIN) di Indonesia khususnya di Riau hendaknya bersatu dalam merumuskan langkah-lakah yang tepat untuk mengoptimalkan potensi zakat yang besar itu. Menteri Agama (Menag) RI, Drs H Suryadarma Ali, M Si, saat akan meresmikan penggunaan Gedung Bantuan IDP Tahap I UIN Suska Riau di Pekanbaru, mengatakan UIN belum lambat bertanya "Apakah Islam pantas miskin?, dan Apakah Islam melestari kemiskinan dengan sumbangan disana-sini?. "Kalau saya pribadi mengatakan bahwa Islam tidak pantas miskin, Islam tidak melestarikan kemiskinan dan tidak juga mengekspoitasi kemiskinan, tapi Islam adalah agama yang anti kebodohan dan anti kemiskinan. Anti kebodohan hal tersebut terbukti pada ayat pertama yang artinya "bacalah" karena membaca adalah pintu ilmu pengetahuan. Islam anti kemiskinan dengan kewajiban mengeluarkan zakat, infak dan sadaqah bagi orang yang mampu," tegas Suryadarma dihadapan mahasiswa dan dosen UIN Suska Riau. Namun problema yang dihadapi saat ini, kata Suryadarma, ummat Islam sampai saat ini belum mampu merumuskan sabaik-baiknya, karena zakat, infak dan sadakah yang disalurkan untuk masyarakat kurang mampu belum memberikan dampak yang permanen, karena sifatnya hanya tindakan bantuan sementara. Selain itu, UIN juga masih jauh dari pergulatannya dari problema yang dihadapi umat Untuk itu UIN se Indonesia yang didalamnya terdapat pakar-pakar dan ahli-ahli ilmu pengetahuan harus bersatu untuk merumuskan bagaimana zakat di Indonesia bisa seoptimal mungkin dengan potensi yang cukup besar. Sehingga zakat yang ada produktif untuk mengentaskan kemiskinan. "Selama ini, kemiskinan hanya bisa diatasi secara tempores saja, maksimal satu hingga dua minggu saja. Setelah itu, masyarakat yang dibantu susah lagi, sehingga ini sangat tidak efektif. Untuk itu UIN harus mengkaji agar zakat, infak dan sadaqah dapat menuntaskan kemiskinan secara permanen," ucapnya. Menag menambahkan, Islam di Indonesia harus menjadi rujukan, karena kesadaran menjadikan zakat sebagai instrumen bukan hanya kesadaran bersama, tapi kesadaran dunia. Dimana, akibat kemiskinan, banyak kasus-kasus kriminalitas yang terjadi, mulai dari aksi bunuh diri, jual narkoba, jadi PSK dan lain sebagainya. "Beberapa waktu lalu beberapa menteri agama yang tergabung dalam MABIMS (Malaysia, Brunei, Indonesia dan Singapura) mengadakan pertemuan dalam rangka membahas masalah zakat. Kita sepakat untuk fokus mengembangkan potensi zakat sebagai instrumen yang efektif untuk pengentasan kemiskinan umat. Dalam musyawarah MABIMS di Brunei Darussalam 14-16 Oktober lalu itu, secara khusus dibahas secara teknis zakat yang produktif, cara penghimpunannya dan cara penyalurannya yang efektif," terangnya. Sebelum hal tersebut dibahas lebih lanjut, Menag RI secara khusus meminta agar UIN Suska Riau dapat lebih dulu menjawab persoalan zakat dengan mengeluarkan rumusan-rumusan yang dapat lebih mengoptimalkan potensi zakat yang cukup besar di Indonesia, Riau khususnya. (msd)