Menag : Terorisme Dapat Dicegah Dengan Rasa Kebersamaan
Ringkasan:
Pekanbaru, 15/09 (Humas)- Pemerintah mengharapkan masyarakat dapat bersatu padu dan bahu membahu untuk membina lingkungannya masing-masing agar tidak terjadi penyalahgunaan agama dan pemboncengan kegiatan keagamaan sehingga menimbulkan tindak kekerasan.
Pekanbaru, 15/09 (Humas)- Pemerintah mengharapkan masyarakat dapat bersatu padu dan bahu membahu untuk membina lingkungannya masing-masing agar tidak terjadi penyalahgunaan agama dan pemboncengan kegiatan keagamaan sehingga menimbulkan tindak kekerasan. Hal ini disampaikan oleh Menteri Agama RI Muhammad M Basyuni pada sambutan yang dibacakan Dirjen Pendidikan Islam Prof Dr H Mohammad Ali MA Selasa, (15/9) dalam Acara Buka Bersama sekaligus Kegiatan Safari Ramadhan bertempat di Balai Pauh Janggi kediaman Gubernur Riau HM Rusli Zainal.
Hadir dalam kesempatan itu Gubernur Riau, Wakil Gubernur Riau, Ketua DPRD Provinsi Riau, Walikota Pekanbaru, Kepala Dinas/Badan dilingkungan Pemerintah Provinsi riau, Kakanwil Depag Riau, para tokoh agama, tokoh masyarakat dan sejumlah anak yatim yang keseluruhannya berjumlah lebih kurang 500 orang.
Maftuh Basyuni lebih lanjut menjelaskan, aksi teroris merupakan aksi kekerasan yang melibatkan dan mengatasnamakan suatu agama tertentu merupakan perbuatan yang tidak dapat ditoleransi lagi. Agama telah dijadikan alat legitimasi untuk melakukan tindakan-tindakan kekerasan yang secara nyata telah mengoyak ketentraman dan kedamaian sejati yang telah kita rasakan dalam beberapa tahun terkahir ini. Akibat aksi-aksi tersebut telah menimbulkan berbagai spekulasi yang kurang sedap, saling curiga antar kelompok umat beragama.
Aksi teroris yang mengatasnamakan agama dan berdalih merupakan jalan jihad yang dibenarkan agama merupakan ajaran yang menyesatkan. Para pelaku bom bunuh diri yang dijanjikan surga di akhirat dan mendapatkan julukan sebagai ‘Pengantin’ merupakan hasutan yang sangat manjur bagi mereka yang memiliki pengetahuan agama sangat sempit. Karena pada kenyataannya jihad di jalan Allah SWT tidak harus melakukan bom bunuh diri tetapi bisa dengan jalan lain yang lebih di Ridhoi oleh Allah SWT.
Hasutan ‘aktor’ perekrut kepada sasarannya merupakan orang-orang yang memiliki kemampuan retorika yang handal dan biasanya mereka hadir di antara masyarakat atau warga yang sedang membutuhkan pendidikan agama serta adanya kelengahan pemantauan masyarakat atau pemerintah setempat terhadap warganya.
Sebagimana diketahui bahwa aksi teroris yang semakin mengkhawatirkan dengan aksi terakhirnya yaitu peledakan bom bunuh diri di Hotel J.W. Marriot dan Hotel Ritz Carlton cukup menggemparkan masyarakat Indonesia. Apalagi dengan pemberitaan kelanjutannya mengenai pelaku bom bunuh diri yang salah satunya masih sangat muda yaitu berumur 18 tahun dan diketahui baru lulus dari SMU. Hal ini sangat mengkhawatirkan kondisi negara kita saat ini, sehingga pemerintah Indonesia harus cepat mengambil tindakan. Dari penelusuran gembong teroris yang disinyalir dikomandani oleh Noordin M Top. Adanya pembatasan dan pengawasan terhadap kegiatan dakwah di Bulan Ramadhan 1430 H oleh pemerintah merupakan upaya pemerintah untuk meminimalisasikan aktivitas terorisme.
Seperti yang sering kita lihat dalam berita penangkapan pelaku teroris atau penggrebekkan rumah yang disinyalir menjadi markas teroris, biasanya warga sekitar terkejut dengan proses penangkapan tersebut dan tidak menyangka bahwa diantara mereka ada pelaku teroris. Maka dari itu, saat ini pemerintah menganjur kepada masyarakat Indonesia lebih waspada terhadap warga yang memiliki aktivitas yang mencurigai dan diharapkan bantuan masyarakat untuk melaporkannya kepada aparat setempat apabila ada sesuatu hal yang mencurigai dan mengarah pada tindakan terroris. (ns)