0 menit baca 0 %

MTsN 1 Kota Pekanbaru Ikuti Sosialisasi KBC Madrasah Wilayah Barat: Menyemai Kesadaran dalam Pembelajaran

Ringkasan: Jakarta (Kemenag) Sosialisasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) bagi madrasah wilayah barat digelar selama tiga hari, Kamis hingga Sabtu (16 18 Oktober 2025) di Swiss-Belinn Kemayoran, Jakarta. Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber inspiratif dan diikuti oleh utusan dari berbagai madrasah di wi...

Jakarta (Kemenag) — Sosialisasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) bagi madrasah wilayah barat digelar selama tiga hari, Kamis hingga Sabtu (16–18 Oktober 2025) di Swiss-Belinn Kemayoran, Jakarta. Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber inspiratif dan diikuti oleh utusan dari berbagai madrasah di wilayah barat Indonesia (perwakilan dari 10 Provinsi di Sumatera, 4 Provinsi di Kalimantan dan dari Daerah Khusus Jakarta).

MTsN 1 Kota Pekanbaru turut berpartisipasi dengan mengirimkan Wakil Kepala Kurikulum, Indrayadi, dan Staf Kurikulum, Wirdawati. Acara dibuka secara resmi oleh Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Prof. Amien Suyitno yang menekankan pentingnya penerapan KBC sebagai pendekatan pembelajaran yang membentuk growth mindset atau pola pikir bertumbuh dalam diri peserta didik.

Narasumber M. Rifqi Rahman menjelaskan bahwa KBC bukanlah sekadar integrasi, melainkan insersi—seperti air infus yang menyatukan rasa buah dan air, namun tetap terlihat jelas elemen pembentuknya. “KBC bukan kegiatan tambahan, tetapi dimasukkan langsung ke dalam materi pembelajaran. Ini adalah perubahan paradigma menuju pembelajaran yang berpusat pada murid,” ujarnya.

KBC juga bertujuan menumbuhkan kesadaran spiritual. Guru berperan sebagai penumbuh kesadaran, bukan pengontrol. Rifqi juga mengajak peserta merefleksikan istilah “murid” yang kini kembali digunakan, menggantikan “siswa” atau “peserta didik”, karena lebih mencerminkan hubungan emosional dan spiritual antara guru dan anak didik.

Kepala MTsN 1 Kota Pekanbaru, Agus Salim Tanjung, menyambut baik keikutsertaan madrasahnya pada kegiatan ini. “KBC sangat relevan dengan semangat kami membangun madrasah yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga menyentuh sisi kemanusiaan dan spiritual siswa. Ini adalah pendekatan yang kami harapkan bisa diterapkan secara nyata di ruang kelas,” ujarnya.

Sosialisasi ini menjadi langkah awal membangun ekosistem pendidikan madrasah yang lebih humanis dan reflektif. Dengan pendekatan insersi yang lembut namun bermakna, KBC diharapkan mampu mengubah paradigma pembelajaran menjadi lebih menyentuh hati dan membentuk generasi yang sadar, peduli, dan tumbuh dari dalam.(HumasAndalan)