Siak (Kemenag) - MTsN 3 Siak kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas pendidikan dengan menggelar Teacher Skill Upgrading Part 2 pada, (09/10/2025). Bertempat di Ruang Kelas IXB, kegiatan ini mengangkat tema “Penyusunan Modul Ajar Pembelajaran Mendalam dan Insersi Kurikulum Berbasis Cinta”, sebagai lanjutan dari sesi sebelumnya yang telah membahas fondasi kurikulum transformative leawt pembelajaran mendalam dan insersi Kurikulum Berbasis Cinta.
Kegiatan ini diikuti oleh seluruh guru MTsN 3 Siak dengan semangat tinggi. Fokus utama pelatihan adalah penguatan kemampuan guru dalam menyusun modul ajar yang tidak hanya bermakna dan kontekstual, tetapi juga mampu menyentuh sisi emosional siswa. Konsep pembelajaran mendalam dan kurikulum berbasis cinta menjadi inti diskusi, menekankan pentingnya menghadirkan suasana belajar yang penuh empati, mendorong pemikiran kritis, dan membentuk perilaku positif.
Dalam sambutannya, Kepala MTsN 3 Siak, Idris, menyampaikan apresiasi kepada seluruh guru yang antusias mengikuti kegiatan peningkatan kapasitas ini. “Guru tidak hanya dituntut mengajar, tetapi juga menghadirkan cinta dalam proses belajar. Dengan semangat itu, insya Allah pembelajaran akan menjadi lebih hidup dan berdampak bagi peserta didik,” ujarnya.
Wakil Kepala Bidang Kurikulum MTsN 3 Siak, Abdullah, yang juga menjadi narasumber pada kegiatan ini menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar pelatihan teknis, tetapi merupakan gerakan perubahan paradigma pendidikan. “Modul ajar yang baik bukan hanya soal struktur dan konten, tetapi tentang bagaimana guru mampu menyisipkan nilai-nilai kasih sayang, penghargaan terhadap keberagaman, dan dorongan untuk berpikir reflektif. Kurikulum berbasis cinta adalah fondasi untuk membentuk generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berempati dan berintegritas,” jelasnya.
Abdullah juga menekankan pentingnya pembelajaran mendalam sebagai pendekatan yang menantang guru untuk keluar dari zona nyaman. “Kita harus berani merancang pembelajaran yang tidak hanya menyentuh kognisi, tetapi juga afeksi dan spiritualitas siswa. Di sinilah peran guru sebagai fasilitator kehidupan menjadi nyata,” tambahnya.
Salah satu peserta, Juhari, guru Bahasa Indonesia, mengungkapkan kesan mendalamnya terhadap kegiatan ini. “Saya merasa kegiatan ini membuka cakrawala baru. Selama ini kita terlalu terpaku pada target kurikulum, padahal yang lebih penting adalah bagaimana siswa merasa dihargai dan didampingi dalam proses belajarnya. Konsep kurikulum berbasis cinta ini sangat relevan dan menyentuh,” tuturnya.
Kegiatan ditutup dengan sesi refleksi dan penyusunan rencana tindak lanjut, di mana setiap guru diminta merancang satu modul ajar yang mengintegrasikan pendekatan pembelajaran mendalam dan nilai cinta dalam kurikulum. MTsN 3 Siak menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan pendidikan yang humanis, transformatif, dan berakar pada nilai-nilai spiritual. (Abd/Hd)