Siak (Kemenag) - Dalam upaya memperkuat layanan pendidikan bagi peserta didik berkebutuhan khusus, MTsN 3 Siak menyelenggarakan Diskusi Program Pembelajaran Inklusi pada Selasa, (7 Oktober 2025). Kegiatan ini berlangsung di ruang Kepala Madrasah dan dihadiri oleh Koordinator Program Inklusi, guru pendamping, guru Bimbingan dan Konseling (BK), serta jajaran Wakil Kepala Madrasah bidang Kurikulum dan Kesiswaan.
Diskusi ini bertujuan menyamakan persepsi dan strategi dalam pelaksanaan pembelajaran inklusif di lingkungan madrasah. Salah satu fokus utama adalah pemetaan dan presentasi data potensi peserta didik inklusi yang memerlukan perhatian khusus, baik dari aspek akademik, sosial, maupun emosional. Data tersebut menjadi landasan penting bagi madrasah dalam merancang pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing anak.
Kepala MTsN 3 Siak, Idris, menegaskan bahwa program inklusi merupakan wujud nyata komitmen madrasah dalam memberikan hak pendidikan yang setara bagi semua siswa. “Setiap anak memiliki potensi unik yang perlu digali dan dikembangkan dengan pendekatan yang tepat,” ujarnya.
Waka Kesiswaan, Subai’ah, menyampaikan bahwa pembinaan karakter dan penguatan interaksi sosial menjadi aspek penting dalam mendampingi siswa inklusi. “Kami berkomitmen menciptakan lingkungan yang aman dan suportif, agar anak-anak merasa diterima dan mampu berkembang sesuai potensinya,” tuturnya.
Sementara itu, Waka Kurikulum, Abdullah, menekankan pentingnya integrasi kurikulum yang fleksibel dan berbasis kebutuhan peserta didik. “Pemetaan potensi ini bukan sekadar data, tetapi fondasi untuk menyusun strategi pembelajaran yang adaptif, berkeadilan, dan tetap menjaga kualitas akademik,” jelasnya.
Guru BK, Suliana, turut menyoroti pentingnya pendekatan psikologis dalam mendampingi siswa inklusi. “Kami perlu memahami latar belakang emosional anak-anak ini agar bisa memberikan intervensi yang tepat, baik dalam konseling individu maupun kelompok,” katanya.
Sejalan dengan hal tersebut wali kelas Sri Murni dan Nuraena juga berbagi pengalaman mereka dalam mendampingi siswa inklusi di kelas. Menurut Sri Murni, komunikasi intensif dengan orang tua dan guru pendamping sangat membantu dalam memahami kebutuhan anak. “Kami belajar untuk lebih sabar dan kreatif dalam menyampaikan materi,” ujarnya. Nuraena menambahkan, “Kehadiran anak inklusi di kelas justru memperkaya dinamika pembelajaran dan mengajarkan nilai empati kepada siswa lainnya.”
Diskusi ini menjadi langkah awal yang strategis dalam memperkuat sinergi antarpendidik di MTsN 3 Siak. Dengan semangat kolaboratif dan komitmen terhadap pendidikan yang inklusif, madrasah ini terus berupaya mewujudkan lingkungan belajar yang ramah, adaptif, dan berkarakter Islami. (Abd/Hd)