Mandau
(Kemenag) - Suasana hangat dan interaktif mewarnai salah satu sesi Bimbingan Perkawinan Mandiri Angkatan IX Tahun 2025 di KUA Kecamatan
Mandau, Kamis (7/8/2025). Dalam kesempatan tersebut, Muhammad Fahmi tampil
sebagai narasumber dengan materi bertema “Konsep Membentuk Keluarga Sakinah”.
Sesi ini menjadi salah satu yang paling ditunggu para peserta karena membahas
fondasi utama rumah tangga idaman dalam Islam.
Mengawali
penyampaiannya, Muhammad Fahmi tidak langsung memberikan definisi, melainkan
memancing peserta untuk berpikir dan berbagi pandangan. Ia melemparkan
pertanyaan sederhana namun mendalam: “Menurut
Anda, apa itu keluarga sakinah?” Pertanyaan itu mengundang beberapa
peserta mengangkat tangan dan memberikan jawaban, mulai dari “keluarga yang
bahagia” hingga “keluarga yang penuh ketenangan dan cinta kasih”.
Diskusi
ringan pun mengalir, memecah kekakuan, dan membuat suasana lebih cair. Setelah
mendengarkan jawaban peserta, Muhammad Fahmi kemudian menjelaskan bahwa
keluarga sakinah adalah keluarga yang dibangun atas dasar keimanan dan
ketakwaan, dipenuhi rasa kasih sayang (mawaddah
wa rahmah), serta mampu menghadapi tantangan hidup dengan sabar dan
saling mendukung.
Beliau
juga memaparkan beberapa langkah praktis untuk mewujudkan keluarga sakinah, di
antaranya: menjaga komunikasi yang baik antara suami dan istri, menanamkan
nilai agama dalam setiap aspek kehidupan, mengelola emosi secara bijak, serta
membangun komitmen untuk saling menghargai. “Keluarga sakinah bukan tercipta
dalam sehari, melainkan hasil dari proses panjang yang dikerjakan bersama,”
tegasnya.
Sesi
ini semakin hidup ketika Siti Aisyah, salah satu peserta, mengajukan pertanyaan
tentang bagaimana cara menghadapi masalah yang muncul dalam rumah tangga.
Muhammad Fahmi menjawab dengan tenang, menyampaikan bahwa konflik adalah hal
wajar, tetapi cara menyikapinya yang akan menentukan masa depan hubungan.
“Jangan biarkan masalah berlarut-larut. Bicarakan secara terbuka, dengarkan
pendapat pasangan, dan hindari saling menyalahkan. Libatkan Allah dalam setiap
solusi dengan doa dan salat bersama,” jelasnya.
Peserta
tampak antusias, mencatat poin-poin penting yang disampaikan. Beberapa bahkan
terlihat mengangguk-angguk tanda setuju, sementara yang lain tersenyum ketika
mendengar contoh-contoh ringan namun penuh makna dari narasumber.
Dengan
pembawaan yang santai namun sarat pesan, Muhammad Fahmi berhasil membuat materi
yang sejatinya serius menjadi mudah dipahami dan membekas di hati peserta. Sesi
ini diharapkan menjadi bekal berharga bagi 15 pasang calon pengantin yang
mengikuti bimbingan, sehingga kelak mereka mampu membangun rumah tangga yang
bukan hanya bahagia secara lahiriah, tetapi juga kuat secara spiritual dan
emosional.