Bantan (Kemenag) - Muhammad Khairul Fiqri,
Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Bantan sekaligus menjabat sebagai Kepala Dusun ditempatnya, memimpin langsung permainan kompang, memandu
setiap pukulan agar berpadu menjadi irama yang mempesona di suatu majleis
keduri kawin Senin malam, (11/08/2025) pada pukul 20.00 WIB s/d selesai.
Alat musik pukul tradisional kompang yang telah mengakar dalam budaya Melayu sejak
ratusan tahun lalu bergema dalam dentingan ritmis yang khas pada malam itu.
Kompang, yang
biasanya dimainkan secara berkelompok, tidak sekadar menjadi hiburan. Ia adalah
media perekat silaturahmi, penanda sukacita, sekaligus wujud rasa syukur
masyarakat. Setiap pukulan terasa menghentak hati, mengiringi langkah-langkah
adat dan doa yang menyelimuti prosesi pernikahan.
Bagi Khairul Fiqri, menghidupkan kembali tradisi kompang bukan
sekadar nostalgia, melainkan upaya melestarikan warisan seni rakyat agar tidak
terkikis oleh zaman. "Kompang adalah identitas kita. Ketika dentingannya
berhenti, maka hilanglah sebagian dari jiwa kampung ini," ujarnya penuh
semangat.
Malam itu, para
pemain, baik muda maupun tua, duduk bersila membentuk lingkaran. Cahaya lampu
pijar dan kilau senyum para tamu berpadu dengan dentingan kompak yang
menggetarkan. Suasana menjadi hangat, penuh kebersamaan, seakan membawa kembali
memori masa lampau ketika setiap pesta rakyat selalu diiringi tabuhan kompang.
Tradisi ini bukan
hanya menghidupkan suasana, tetapi juga menanamkan nilai-nilai gotong royong,
kebersamaan, dan rasa bangga terhadap budaya sendiri. Semangat inilah yang kini
berusaha dirawat kembali oleh Khairul Fiqri
dan masyarakat Bantan Tengah, agar irama kompang terus bergema di setiap
generasi.