Kampar ( Kemenag )--Oki Pendri, salah satu penyuluh agama Islam dari Kementerian Agama Kabupaten Kampar, dipercaya menjadi bagian dari Tim Media Pusat IPARI dalam peringatan Hari Lahir ke-II dan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) IPARI 2025, yang berlangsung pada 25–27 Mei 2025 di Aston Kartika Grogol Hotel, Jakarta, Ahad, 25/5/2025
Bersama dua rekan lainnya, Masrizal dan Nurlaili Lubis, Oki menjadi bagian dari delegasi Provinsi Riau yang turut ambil bagian dalam forum nasional ini. Keikutsertaan mereka menjadi bukti bahwa penyuluh agama dari Riau terus aktif dan berkontribusi dalam membangun organisasi profesi yang solid dan profesional
Dalam Rakernas yang dibuka oleh Dr. A. Zayadi, para peserta menerima arahan strategis terkait penguatan peran IPARI, profesionalisme penyuluh, serta pentingnya kuantifikasi kinerja dan dampak nyata di tengah masyarakat. Keberadaan IPARI sebagai wadah resmi penyuluh agama juga ditegaskan sebagai amanat regulasi dan kebutuhan zaman.
Dalam sambutannya, Dr. A. Zayadi menyampaikan pesan-pesan strategis terkait masa depan IPARI dan profesionalisme penyuluh agama: “Dua tahun, tapi cita rasa lebih dari dua tahun. Tahniah atas Harlah ke-II IPARI. Manfaatkan momentum ini untuk sharing experience dan refleksi bersama. Rakernas ini semoga dapat memacu semangat kerja para penyuluh agama dan memperkuat organisasi profesi ini,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa keberadaan IPARI adalah amanat PermenPAN-RB, sehingga keberlangsungan organisasi harus mengedepankan logika organisasi, bukan individu, guna menghindari friksi dan konflik internal. “Kepentingan organisasi lebih utama dari kepentingan individu,” tegasnya.
Sinergi dan kolaborasi lintas sektor juga menjadi poin penting dalam arah pengembangan IPARI ke depan. “PW IPARI di berbagai daerah sudah aktif menjalin komunikasi dengan Pangdam, Pemprov, dan Polda karena mereka juga mitra strategis. Kolaborasi adalah kekuatan kita hari ini,” tambahnya.
Zayadi juga menyinggung pentingnya kuantifikasi layanan penyuluhan agama. “Sekarang bukan hanya terlihat, tapi juga harus terukur. Setiap penyuluhan harus bisa dijelaskan datanya: berapa jamaah yang dibina, berapa penerima manfaat literasi, semua tergambarkan secara kuantitatif,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa ke depan tantangan para penyuluh akan meningkat karena mayoritas telah menjadi ASN PPPK, sehingga tagihan kinerja tidak bisa lagi dihindari. “Kalau dulu karena non-ASN banyak dimaklumi, sekarang sudah dibiayai negara, maka SKP adalah keniscayaan,” tuturnya.
Rakernas juga membahas rencana penataan formasi penyuluh ke depan. “Sedang dihitung kebutuhan penyuluh nasional. Saat ini, 12 ribu penyuluh berpindah jabatan. Satu penyuluh rata-rata melayani 3.500 layanan. Ini akan menentukan kebijakan jumlah formasi penyuluh ke depan,” jelas Zayadi.
Ia menutup arahannya dengan pesan inspiratif, “Penyuluhan agama yang baik adalah yang berdampak dan punya legacy. Maka, profesionalisme adalah keniscayaan.”
Penunjukan Oki Pendri sebagai tim media pusat diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi penyuluh lainnya, khususnya di Kabupaten Kampar, untuk terus meningkatkan kapasitas, jejaring, dan kontribusi aktif dalam ruang dakwah dan kebangsaan melalui IPARI
Dengan semangat baru dari Rakernas ini, para penyuluh agama diharapkan semakin solid, strategis, dan berdampak nyata di tengah masyarakat, menjadi agen perubahan yang membawa nilai-nilai keagamaan, kebangsaan, dan pembangunan secara harmonis. ( Fatmi )