Meranti(Kemenag)- Sebanyak 63 peserta dari berbagai provinsi di Pulau Sumatera, termasuk Riau, Jambi, Sumatera Utara, dan Kepulauan Riau, mengikuti Kursus Wasit Sepak Bola Lisensi C-3 Asprov PSSI Riau yang digelar mulai 23 hingga 27 April 2025 di Hotel Winstar, Pekanbaru. Kegiatan ini merupakan inisiasi dari Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Riau, sebagai upaya meningkatkan kualitas perwasitan di daerah.
Pelatihan ini menghadirkan pemateri yang memiliki rekam jejak panjang dalam dunia sepak bola nasional dan internasional. Dua di antaranya adalah H. Abdullah, mantan wasit nasional sekaligus penilai wasit berpengalaman, serta Jimmy Napitupulu, salah satu wasit bersertifikat FIFA dan AFC yang dikenal luas di Asia Tenggara karena kepiawaiannya memimpin laga-laga internasional.
Yang menarik perhatian dalam kegiatan ini adalah keikutsertaan Okta Kurniawan, seorang siswa dari MAN 2 Kepulauan Meranti, yang tercatat sebagai peserta termuda dalam kursus ini. Meski usianya masih belia, semangat dan kesungguhannya untuk belajar dunia perwasitan tidak kalah dari peserta lain yang sebagian besar sudah berusia dewasa dan berpengalaman di lapangan hijau.
Keikutsertaan Okta dalam pelatihan ini mendapat dukungan penuh dari pihak sekolah, khususnya dari Dedi Hidayat, selaku guru olahraga di MAN 2 Kepulauan Meranti. Beliau menilai bahwa partisipasi siswa dalam kursus seperti ini merupakan langkah strategis dalam membangun generasi muda yang tidak hanya aktif secara fisik, tetapi juga cerdas dalam memahami aturan dan filosofi olahraga.
“Kami sangat bangga dengan Okta. Ia adalah contoh nyata bahwa usia muda bukan halangan untuk berkarya dan belajar lebih jauh. Dengan mengikuti pelatihan ini, kami harap Okta bisa menjadi pionir perwasitan muda di lingkungan sekolah maupun komunitas. Ini juga sejalan dengan semangat olahraga yang kami bangun di MAN 2 Kepulauan Meranti, yaitu membentuk siswa yang tidak hanya kuat fisiknya, tetapi juga paham akan aturan dan nilai-nilai sportivitas,” ujar Dedi.
Dedi juga berharap agar pelatihan ini menjadi awal dari gerakan yang lebih besar di sekolah dalam memperdalam pemahaman tentang dunia sepak bola. “Saya berharap, kedepannya akan lebih banyak siswa yang ikut aktif dalam kegiatan semacam ini. Tidak hanya menjadi pemain, tetapi juga memahami peran penting seorang wasit. Karena di sepak bola, peran wasit itu krusial untuk menjamin pertandingan berjalan adil dan sportif. Dengan adanya Okta, semoga bisa jadi inspirasi untuk siswa lainnya,” harapnya.
Selain dari lingkungan sekolah, Muarif CM, selaku guru Penjas dan juga salah satu wasit berlisensi dari Kepulauan Meranti, memberikan apresiasi atas inisiatif Okta. Muarif menegaskan bahwa peran wasit bukan hanya sebagai pengadil di lapangan, tetapi juga sebagai teladan disiplin, kepemimpinan, dan objektivitas. “Saya berharap sepulang dari pelatihan ini, Okta bisa menularkan pengetahuan dan semangatnya kepada teman-teman di MAN 2 Kepulauan Meranti. Ini penting agar siswa tidak hanya bermain bola, tetapi juga mengerti pentingnya regulasi, etika, dan peran wasit dalam menjaga kualitas permainan,” ujarnya.
Okta yang merupakan Siswa Kelas X.F1 INI menyampaikan rasa bangga dan semangatnya secara langsung. “Saya sangat bersyukur dan bangga bisa mengikuti kursus ini. Ini kesempatan langka yang tidak semua orang dapatkan, apalagi saya masih pelajar. Saya ingin belajar banyak tentang perwasitan, bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga agar bisa berbagi ilmu ke teman-teman di sekolah,” ujarnya dengan antusias.
Lebih lanjut, Okta juga berharap agar ilmu yang didapatkannya bisa menjadi bekal untuk masa depan. “Saya ingin menjadi wasit profesional di masa depan, bahkan kalau bisa sampai ke tingkat nasional atau internasional. Tapi untuk sekarang, saya ingin mulai dengan mengedukasi teman-teman saya tentang aturan dan etika dalam sepak bola. Semoga apa yang saya pelajari di sini bisa bermanfaat, bukan cuma untuk saya pribadi, tapi juga untuk sekolah dan daerah saya,” tambahnya.
Kehadiran Okta Kurniawan sebagai peserta termuda dalam kursus wasit C-3 ini menjadi bukti bahwa anak muda dari daerah pun memiliki potensi besar untuk berkembang jika diberi kesempatan dan dukungan yang tepat.
Dengan semangat belajar dan niat berbagi, Okta telah membuktikan bahwa usia bukan penghalang untuk menjadi bagian penting dari ekosistem sepak bola Indonesia. Harapan besar kini ada di pundaknya, untuk menjadi generasi penerus wasit yang profesional, sportif, dan berintegritas. (HMS-DR)