0 menit baca 0 %

PAI KUA Kec. Bantan Pandu Tabuh Kompang Berinai di Desa Bantan Tengah

Ringkasan: Bantan (Kemenag) - Suasana penuh suka cita mewarnai Desa Bantan Tengah pada Ahad malam (24/08/2025), ketika warga berkumpul di salah satu rumah warga dalam rangkaian acara berinai yang merupakan tradisi adat Melayu menjelang hari pernikahan. Dalam acara yang khidmat sekaligus meriah tersebut, Muhamm...

Bantan (Kemenag) - Suasana penuh suka cita mewarnai Desa Bantan Tengah pada Ahad malam (24/08/2025), ketika warga berkumpul di salah satu rumah warga dalam rangkaian acara berinai yang merupakan tradisi adat Melayu menjelang hari pernikahan.

Dalam acara yang khidmat sekaligus meriah tersebut, Muhammad Khairul Fiqri, M.Pd, Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Bantan, turut hadir dan dipercaya memandu tabuhan kompang bersama masyarakat setempat.

Tabuh kompang berinai merupakan salah satu warisan budaya Melayu yang masih lestari di tengah masyarakat. Dentuman kompang yang ritmis disertai lantunan shalawat menjadi simbol doa dan keberkahan bagi pasangan pengantin yang akan melangsungkan akad nikah. Kehadiran Penyuluh Agama Islam dalam kegiatan ini bukan hanya sebagai tokoh agama, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat yang aktif melestarikan seni tradisi Islami.

“Tabuh kompang bukan sekadar hiburan, tetapi mengandung nilai dakwah. Setiap pukulan kompang yang diiringi shalawat adalah doa bersama, semoga rumah tangga yang akan dibina penuh rahmat dan keberkahan dari Allah SWT,” ungkap Muhammad Khairul Fiqri di sela kegiatan.

Antusiasme warga tampak jelas dengan semangat para penabuh kompang yang mayoritas berasal dari pemuda dan remaja desa. Mereka berlatih sejak sore hari agar tabuhan terdengar kompak dan selaras. Kehadiran penyuluh agama yang memandu jalannya tabuh kompang juga memberikan semangat tersendiri, sebab menjadi wujud kebersamaan antara tokoh agama dan masyarakat dalam menjaga adat sekaligus syiar Islam.

Acara berinai diakhiri dengan doa bersama serta penyampaian pesan moral dari Muhammad Khairul Fiqri tentang pentingnya membangun keluarga sakinah, mawaddah, dan rahmah. Ia menekankan bahwa adat berinai hendaknya tidak hanya dijadikan sebagai tradisi seremonial, tetapi juga sarana mempererat ukhuwah Islamiyah antarwarga.

Dengan kegiatan ini, Desa Bantan Tengah kembali menunjukkan bahwa pelestarian adat dan nilai agama bisa berjalan beriringan. Kehadiran Penyuluh Agama Islam yang terlibat langsung dalam tabuh kompang berinai menjadi contoh nyata sinergi antara dakwah dan budaya.