Bantan (Kemenag) - Masjid Raya Araudhah Selatbaru kembali dipenuhi jamaah yang hadir menunaikan salat Jumat (3/10/2025). Pada kesempatan kali ini, Muhammad Khairul Fiqri, M.Pd, Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Bantan, dipercaya menjadi khatib. Dengan suara tenang dan penuh wibawa, beliau menyampaikan khutbah bertemakan “4 Sikap Hadapi Beda Pendapat dalam Beragama.”
Dalam pembukaannya, khatib mengingatkan jamaah akan pentingnya ketakwaan sebagai bekal menuju kebahagiaan abadi di akhirat. “Takwa adalah sebaik-baik bekal untuk meraih kebahagiaan abadi. Dengan takwa, kita mampu melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya,” ungkapnya.
Beliau kemudian menyoroti fenomena perbedaan pendapat yang kerap menimbulkan perpecahan di tengah umat. Menurutnya, perbedaan adalah bagian dari sunnatullah yang tak bisa dihindari. “Seringkali perbedaan pendapat memicu pertengkaran dan konflik, padahal perbedaan itu adalah keniscayaan. Dari dahulu sampai sekarang, para ulama berbeda pandangan, dan hal itu merupakan kekayaan intelektual Islam,” jelasnya.
Khatib menekankan bahwa sikap kasar maupun saling menyalahkan dalam menghadapi perbedaan pendapat adalah sesuatu yang sangat dilarang dalam Islam. Beliau mengutip sabda Rasulullah SAW: “Muslim adalah orang yang mampu menjaga lisan dan tangannya dari menyakiti orang lain.” (HR. Bukhari).
Lebih lanjut, Muhammad Khairul Fiqri memaparkan empat sikap utama yang harus dimiliki umat Islam dalam menyikapi perbedaan pendapat:
1. Memperluas literasi dan ilmu pengetahuan.
Sebelum merasa paling benar sendiri, seorang muslim hendaknya memperkaya diri dengan bacaan dan pemahaman yang luas. “Orang yang berwawasan luas itu cenderung sedikit sekali menyalahkan orang lain,” kutipnya dari nasihat ulama.
2. Mengedepankan sikap toleransi.
Perbedaan seharusnya dihadapi dengan tenggang rasa, saling menghormati, dan tidak mudah menghakimi. Nabi SAW bersabda, “Aku diutus dengan membawa ajaran yang benar serta toleran.” (HR. Ahmad).
3. Mengutamakan dialog yang bijak.
Dalam menyikapi perbedaan, hendaknya umat Islam mendahulukan musyawarah dan dialog yang baik. “Al-Qur’an mengajarkan kita untuk berdebat dengan cara yang bijaksana, tidak dengan emosi atau sikap temperamen,” tegasnya.
4. Mencari titik temu.
Islam mengajarkan pentingnya kalimatun sawa, yakni mencari persamaan yang menyatukan di tengah perbedaan. “Dalam era demokrasi, titik temu biasanya dapat dicapai dengan diskusi dan musyawarah,” tambahnya.
Khatib juga mencontohkan bagaimana Rasulullah SAW tetap bersikap penuh kasih sayang kepada sahabat-sahabatnya meskipun ada di antara mereka yang masih melakukan kesalahan. Beliau menegaskan, dengan sikap bijak dan penuh kelembutan, Nabi justru berhasil mengarahkan umatnya menuju jalan kebenaran.
Khutbah yang disampaikan dengan runtut, penuh dalil Al-Qur’an dan hadis tersebut, membuat jamaah menyimak dengan khidmat. Banyak jamaah yang mengangguk tanda sepakat, karena pesan khutbah dinilai sangat relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini, di mana perbedaan seringkali menimbulkan perselisihan di media sosial maupun kehidupan sehari-hari.
Di akhir khutbah, Muhammad Khairul Fiqri menutup dengan doa agar seluruh jamaah senantiasa diberikan hidayah, keberkahan hidup, dan kekuatan iman dalam menjaga ukhuwah Islamiyah. Beliau juga berharap agar khutbah singkat tersebut menjadi pengingat untuk selalu bersikap arif dalam menghadapi perbedaan.
Pelaksanaan salat Jumat di Masjid Raya Araudhah Selatbaru berjalan tertib dan lancar, dipimpin oleh imam tetap masjid. Jamaah pun pulang dengan membawa pesan moral yang mendalam, yakni pentingnya menjaga persatuan, memperkuat ukhuwah, serta menumbuhkan sikap toleransi di tengah masyarakat.