0 menit baca 0 %

PAI KUA Kecamatan Bathin Solapan Berikan Materi Istidraj di Majelis Ta lim Nurul Hidayah

Ringkasan: Bathin Solapan (Kemenag) Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Bathin Solapan Nerwana, S.Fil.I melaksanakan pembinaan kepada majelis ta lim Nurul Hidayah yang berada di Jalan Sultan Syarif Kasim. Kegiatan tersebut mengangkat tema Istidraj sekaligus memimpin bacaan surah yasin dan do a.

Bathin Solapan (Kemenag) Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Bathin Solapan Nerwana, S.Fil.I melaksanakan pembinaan kepada majelis ta lim Nurul Hidayah yang berada di Jalan Sultan Syarif Kasim. Kegiatan tersebut mengangkat tema Istidraj sekaligus memimpin bacaan surah yasin dan do a. Jum at (04/07/2025).

Binaan Majelis Ta lim Nurul Hidayah yang berada di wilayah Kecamatan Bathin Solapan yang di pimpin oleh PAI Nerwana, S.Fil.I ini beranggotakan sebanyak 25 orang dan diketuai oleh Ibu Syamsidar. Pembinaan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman lebih dalam mengenai pentingnya memaknai arti dari istidraj itu sendiri dalam kehidupan kita sehari-hari. PAI Nerwana, S.Fil.I membahas konsep istidraj dalam pembinaan majelis taklim dengan menjelaskan bahwa istidraj adalah pemberian kenikmatan duniawi oleh Allah kepada hamba-Nya yang durhaka, yang sebenarnya merupakan bentuk penundaan azab. Pembahasan ini penting agar anggota majelis taklim memahami bahwa kenikmatan dunia yang berlebihan tidak selalu merupakan tanda kasih sayang Allah, dan bisa jadi merupakan jebakan.

Seseorang yang sedang diuji dengan istidraj akan mengira bahwa berbagai kenikmatan yang dimiliki adalah kemuliaan dari Allah, padahal Allah sedang menghinakan perlahan-lahan dan bahkan membinasakan. Dia selalu berbuat maksiat dan tidak beribadah namun Allah berikan kemewahan dunia. Allah memberikan harta yang berlimpah padahal dia tidak pernah bersedekah. Allah karuniakan rezeki berlipat-lipat padahal jarang shalat, tidak senang pada nasihat ulama, dan terus berbuat maksiat.

Hidupnya dikagumi, dihormati, padahal akhlaknya rusak, langkahnya diikuti, diteladani dan diidolakan, padahal bangga mengumbar dosa dan maksiat. Dia sangat jarang diuji dengan sakit padahal dosa-dosanya menggunung. Tidak pernah diberikan musibah padahal gaya hidupnya penuh jumawa, meremehkan sesama, dan angkuh.

Contoh istidraj bisa kita lihat pada orang yang hidup dalam kemewahan dan kesenangan, tetapi jauh dari nilai-nilai agama. Misalnya, seseorang yang sukses secara finansial tetapi terlibat dalam praktik korupsi atau dosa lainnya. Kekayaan dan keberuntungan yang mereka peroleh bukanlah tanda keberkahan, melainkan bisa jadi merupakan istidraj yang mengarah pada kerugian yang lebih besar di akhirat. Seiring waktu, mereka mungkin akan menghadapi konsekuensi dari perilaku tersebut, yang bisa berujung pada kesedihan dan penyesalan. Jelasnya.

Ciri-ciri Istidraj diantaranya kenikmatan yang berlebihan, tidak pernah merasa cukup, tidak terpengaruh dengan peringatan, semakin jauh dari agama, dan diantara dampak Istidraj adalah penundaan azab, merasa aman dari azab, kerusakan hati, serta penyesalan di akhirat. Nerwana juga menjelaskan ada empat cara yang dapat kita lakukan untuk menghindari Istidraj, diantaranya meningkatkan keimanan, melakukan amal saleh, mencari ilmu agama, bersyukur atas nikmat, dan berdoa agar dijauhkan dari istidraj.

Dari tema binaan tersebut PAI Nerwana, S.Fil.I juga menyimpulkan, bahwa ketika seseorang mendapatkan kenikmatan, baik nikmat materi maupun non materi, hendaklah ia bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh zat pemberi nikmat, dan bukannya lupa kepada-Nya. Dan segera bersyukur kepada-Nya, baik secara lisan, perbuatan maupun keyakinan dalam hati. Realisasi syukur itu bisa berupa semakin rajin beribadah, bersedekah maupun perilaku-perilaku yang bermanfaat bagi orang lain.