Kemenag (Kuansing)Singingi Hilir, 21 Agustus 2025 Komitmen Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Singingi Hilir dalam memberikan pembinaan keagamaan terus menunjukkan hasil nyata di tengah masyarakat. Pada Kamis pagi (21/08), pukul 09.00 WIB, Penyuluh Agama Islam (PAI) Mahyu Budiman kembali melaksanakan kegiatan pemberantasan buta aksara Al-Qur an secara berkesinambungan dengan metode pembelajaran langsung dari rumah ke rumah.
Kali ini, kegiatan dakwah dilakukan di rumah keluarga Rizita dan Delta Indra, yang beralamat di Desa Koto Baru, Kecamatan Singingi Hilir. Anak mereka, yang merupakan remaja dengan kebutuhan khusus, menjadi peserta bimbingan dan saat ini sedang mempelajari Iqro 2 sebagai tahapan awal dalam mengenal dan membaca huruf hijaiyah dengan benar.
Mahyu Budiman menyampaikan bahwa program pemberantasan buta aksara Al-Qur an ini merupakan bagian dari misi dakwah inklusif, agar semua lapisan masyarakat termasuk penyandang disabilitas dan mereka yang memiliki keterbatasan khusus tetap bisa merasakan manfaat pendidikan keagamaan dan dekat dengan Al-Qur an.
 Setiap Muslim berhak mendapatkan ilmu agama, tak terkecuali mereka yang memiliki kebutuhan khusus. Justru mereka lebih membutuhkan perhatian dan bimbingan langsung. Kita tidak bisa hanya menunggu mereka datang ke masjid atau majelis, kita yang harus jemput bola, ujar Mahyu penuh semangat.
Kepala KUA Singingi Hilir, Zulfikar Ali, S.Ag, memberikan apresiasi tinggi terhadap peran aktif para penyuluh agama Islam, terutama mereka yang terus hadir di tengah masyarakat dengan pendekatan langsung dan personal.
> Apa yang dilakukan Mahyu Budiman adalah bukti nyata bahwa dakwah bisa menjangkau siapa saja. Ini bentuk pengabdian yang luar biasa. Kami di KUA Singingi Hilir mendukung penuh setiap kegiatan penyuluhan keagamaan yang menyentuh langsung masyarakat, apalagi yang menyasar kelompok rentan seperti anak berkebutuhan khusus, tegas Zulfikar.
Beliau juga menambahkan bahwa kegiatan seperti ini sejalan dengan misi Kementerian Agama dalam membangun masyarakat religius, berpengetahuan, dan adil, melalui penyuluhan yang menyentuh hati dan kebutuhan riil umat.
KUA Singingi Hilir berharap program-program dakwah langsung ke rumah warga dapat terus diperluas cakupannya, terutama di daerah pelosok dan kelompok marginal. Selain itu, KUA juga mendorong para penyuluh untuk terus meningkatkan kapasitas dan kreativitas dakwah agar pesan-pesan Islam dapat diterima dengan mudah, menyentuh, dan membumi.
> Kami ingin penyuluh menjadi agen perubahan yang bukan hanya menyampaikan ilmu, tapi juga membentuk karakter dan semangat spiritual masyarakat, lanjut Zulfikar.
PAI Mahyu Budiman berharap ke depan semakin banyak pihak yang mendukung dan terlibat dalam gerakan pemberantasan buta aksara Al-Qur an, baik dari tokoh masyarakat, orang tua, hingga pemuda di desa.
 Saya ingin gerakan ini menular ke desa-desa lain. Mari kita bentuk lingkungan yang peduli Al-Qur an. Kita mulai dari yang terkecil, bahkan dari rumah-rumah warga. Tidak ada kata terlambat untuk belajar membaca Al-Qur an, tutur Mahyu.
Rizita dan Delta Indra, orang tua dari santri berkebutuhan khusus tersebut, mengaku sangat terharu dan bersyukur atas kehadiran penyuluh agama yang bersedia datang ke rumah mereka secara rutin. Mereka menyampaikan bahwa anak mereka merasa lebih percaya diri dan senang belajar membaca huruf hijaiyah meskipun dengan kemampuan terbatas.
 Kami sangat berterima kasih kepada Pak Mahyu dan KUA. Anak kami sudah mulai bisa membaca Iqro 2 dan kami merasa bangga. Semoga program seperti ini terus berjalan dan semakin banyak anak-anak seperti dia yang bisa belajar Al-Qur an, ujar Rizita dengan mata berkaca-kaca.
Kegiatan ini menjadi cermin bahwa dakwah tak selalu harus lewat mimbar atau panggung besar, tetapi bisa melalui langkah-langkah kecil namun berdampak besar. Upaya Mahyu Budiman dan dukungan KUA Singingi Hilir menjadi bentuk nyata dari semangat rahmatan lil alamin Islam sebagai rahmat untuk seluruh alam.
Dengan gerakan ini, semoga kesadaran mencintai Al-Qur an, belajar membaca dan mengamalkannya tumbuh subur di tengah masyarakat, tanpa terkecuali. Dan semoga lebih banyak pihak ikut tergerak dalam Gerakan Pemberantasan Buta Aksara Al-Qur an demi mencetak generasi Qurani yang cerdas, santun, dan berkualitas.(MB)