0 menit baca 0 %

PAI Singingi Hilir 'Turun Gunung': Menembus Lumpur Demi Cinta Rasulullah, Emak-Emak Terharu!"

Ringkasan: Kemenag (Kuansing)Kecamatan Singingi Hilir, Kuantan Singingi (Kemenag Kuansing) Jalanan berlumpur, berlobang, dan tanpa aspal tak menghalangi semangat Ahmad Fahrudin, Penyuluh Agama Islam (PAI) Kecamatan Singingi Hilir, untuk menyampaikan cahaya dakwah kepada umat.

Kemenag (Kuansing)Kecamatan Singingi Hilir, Kuantan Singingi (Kemenag Kuansing) — Jalanan berlumpur, berlobang, dan tanpa aspal tak menghalangi semangat Ahmad Fahrudin, Penyuluh Agama Islam (PAI) Kecamatan Singingi Hilir, untuk menyampaikan cahaya dakwah kepada umat. Pada Kamis, 4 September 2025 pukul 14.00 WIB, Fahrudin “turun gunung” menuju Desa Sumber Jaya, desa binaannya, demi menggelar pengajian bertema “Menanamkan Rasa Cinta pada Nabi Muhammad SAW”.

Dalam kegiatan yang digelar di rumah salah satu warga, puluhan emak-emak hadir dengan penuh antusias. Mereka datang dengan membawa semangat dan harapan, duduk bersila di atas tikar sederhana sambil mendengarkan siraman rohani yang menggetarkan hati.

Cinta Rasul, Semangat Tak Pernah Pudar

Ahmad Fahrudin, yang akrab disapa Pak Fahrudin, menyampaikan materi dengan penuh semangat meski baru saja menempuh perjalanan yang penuh tantangan. Sepatu dan celananya penuh lumpur, namun wajahnya tetap berseri-seri ketika mulai menyampaikan pesan-pesan keteladanan Nabi Muhammad SAW.

 “Rasulullah adalah sosok panutan sempurna. Dengan meneladani akhlaknya, kita akan menjadi pribadi yang lebih baik, ibu yang lebih penyayang, dan umat yang lebih kuat,” ujar Fahrudin dalam penyuluhan tersebut.

Tangis Haru dan Syukur Emak-Emak Pengajian

Tak sedikit dari para ibu-ibu yang meneteskan air mata saat mendengarkan kisah-kisah perjuangan dan kelembutan Rasulullah SAW. Kegiatan ini bukan hanya menjadi ajang pengajian biasa, tetapi juga momen spiritual yang menyentuh relung hati mereka.

 “Kami sangat bersyukur ada penyuluh seperti Pak Fahrudin. Meski jalannya rusak, beliau tetap datang. Semoga beliau sehat selalu dan dakwahnya terus sampai ke pelosok,” kata Bu Sri, salah satu peserta pengajian.

Harapan Emak-Emak: Pengajian Rutin dan Rumah Qur’an

Para peserta berharap kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut bahkan menjadi agenda rutin setiap pekan. Beberapa warga juga mengusulkan agar dibangun Rumah Qur’an sederhana sebagai pusat kegiatan belajar mengaji bagi anak-anak dan ibu-ibu.


> “Kami ingin anak-anak kami juga tumbuh dengan cinta kepada Rasul. Kalau bisa, ada Rumah Qur’an, biar kami bisa belajar tiap hari,” tutur Bu Yani, tokoh ibu di desa tersebut.


Harapan PAI Singingi Hilir: Dakwah Tak Kenal Batas


Ahmad Fahrudin menyampaikan bahwa tugas penyuluh bukan sekadar berceramah, tetapi juga menyentuh hati dan membina umat secara terus-menerus, meski harus melewati medan sulit dan tantangan alam.


> “Saya percaya bahwa di setiap pelosok, selalu ada cahaya yang menanti untuk disulut. Selama masih ada jalan, meski rusak, saya akan datang,” tegasnya.


Harapan Kepala KUA Singingi Hilir: Dakwah Merata, Umat Terbina

Zulfikar Ali, Kepala KUA Kecamatan Singingi Hilir, memberikan apresiasi tinggi atas dedikasi PAI di wilayahnya. Ia berharap semangat ini dapat menginspirasi para penyuluh lain di daerah.

 “Kami mendukung penuh kegiatan penyuluhan seperti ini. KUA Singingi Hilir akan terus mendorong agar dakwah dan bimbingan keagamaan bisa merata hingga ke desa-desa terpencil. Karena umat di pelosok pun berhak mendapatkan pencerahan,” ujarnya.

Akhir Kata: Cahaya Islam Menembus Lumpur

Kisah perjuangan ini bukan hanya tentang seorang penyuluh agama. Ini tentang komitmen Kemenag melalui KUA dan PAI dalam menyapa umat hingga ke titik terjauh, meskipun harus menempuh medan berlumpur dan terjal. Di tengah keterbatasan infrastruktur, semangat tak pernah surut.

Emak-emak pun pulang dengan senyum bahagia dan hati yang lebih tenang. Di tangan para penyuluh yang ikhlas, cinta Rasulullah SAW terus tumbuh di hati umat, bahkan dari pelosok terpencil seperti Desa Sumber Jaya, Singingi Hilir.(MB)