Indragiri Hulu, (Inmas). Aktifitas mengaji dan membaca Al-Qur’an selepas shalat maghrib baik di masjid, mushalla maupun di rumah warga telah menjadi tradisi dan budaya umat Islam di Indonesia sejak lama. Namun seiring perkembangan zaman, tradisi tersebut mulai banyak ditinggalkan. Sehabis shalat maghrib, anak-anak dan remaja lebih senang menghabiskan waktu di depan televisi, bermain gadget atau bahkan keluyuran di jalan raya dengan mengendarai sepeda motor yang suaranya dimodifikasi sehingga memekakkan telinga. Bila hal tersebut dibiarkan secara terus-menerus, di masa yang akan datang, generasi yang ada adalah generasi yang rendah nilai spiritualnya dan pada akhirnya terjadi kerusakan moral terhadap generasi bangsa. Melalui Gerakan Maghrib Mengaji, khususnya bagi anak-anak/generasi muda agar terbangun kembali semangat belajar membaca dan memahami kandungan Al-Qur’an sehingga nilai-nilai spiritualnya tumbuh dan terjaga dengan baik.
Melalui Gerakan Maghrib Mengaji, anak-anak memanfaatkan waktu antara Maghrib dan Isya dengan efektif untuk beribadah kepada Allah SWT dan memperdalam wawasan keagamaannya dan tidak menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang kurang bermanfaat. Gerakan Maghrib Mengaji adalah sebagai bahagian dalam upaya Pengentasan Buta Huruf Al-Qur’an sekaligus untuk menumbuh kembangkan minat dan kemampuan baca Al-Qur’an serta meminimalisir pengaruh negatif dari media teknologi informasi dan media elektronik serta upaya memakmurkan Masjid/Mushalla/Surau dengan kegiatan ibadah, kemudian meningkatkan kerjasama maupun kepedulian antara orang tua/masyarakat dalam menciptakan generasi yang berakhlak mulia melalui pembinaan karakter anak-anak/generasi muda.
Terkait dengan kepedulian terhadap Gerakan Maghrib Mengaji, Karang Taruna Satria Melayu Pekan Heran, diketuai oleh Sapta Shopiah bersama pihak lainnya yang telah memberikan kontribusinya atas kemajuan Gerakan Maghrib Mengaji Rumah Pendidikan Qur’an (RPQ) Al-Jannahtul Ula, Desa Pekanheran, Kecamatan Rengat Barat, sehingga pada Sabtu 30 Januari 2021 merupakan Maghrib Mengaji Perdana Memakai Ruangan Baru, demikian disampaikan Muhammad Husni Firdaus, S.Pd.I (sisi kiri pada gabar) selaku Penyuluh Agama Islam Non PNS Kecamatan Rengat Barat dimana RPQ Al-Jannatul Ula tersebut merupakan salah satu kelompok binaan-nya.
Dengan kepedulian, kebersamaan antara orang tua, masyarakat dan pihak terkait lainnya kiranya Maghrib Mengaji menjadi Gerakan Bersama Untuk Melahirkan Generasi Bangsa Yang Berakhlak Mulia.
Kepada seluruh pihak diucapkan terimakasih, semoga berkah dan merupakan amalan ibadah serta mendapatkan ganjaran pahala berlipat ganda dari Allah SWT, demikian disampaikan M. Husni Firdaus.(tulang)
PEDULI MAGHRIB MENGAJI, RPQ AL-JANNATUL ULA DAPAT RUANG BELAJAR
Ringkasan:
Indragiri Hulu, (Inmas). Aktifitas mengaji dan membaca Al-Qur an selepas shalat maghrib baik di masjid, mushalla maupun di rumah warga telah menjadi tradisi dan budaya umat Islam di Indonesia sejak lama. Namun seiring perkembangan zaman, tradisi tersebut mulai banyak ditinggalkan.