Bantan (Kemenag) – Kamis
pagi, 14 Agustus 2025, angin lembut berhembus menyapa halaman aula Desa
Selatbaru. Di dalam ruangan sederhana itu, 40 pasang suami istri duduk
berdampingan, sebagian saling tersenyum, sebagian lain menggenggam tangan
pasangannya. Mereka bukan pasangan baru; rata-rata telah lima tahun mengarungi
samudra rumah tangga. Namun, pagi itu, mereka berlabuh di pelabuhan hati yang
berbeda tempat di mana cinta dihidupkan kembali dan kasih dipelihara agar tak
layu.
Drs. H. Nasuha, Kepala KUA
Kecamatan Bantan, berdiri di hadapan mereka. Dengan suara yang tenang namun
menusuk rasa, beliau membuka pembicaraan tentang cinta dan kasih dua kata
sederhana yang menjadi pondasi kokoh bagi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah.
“Rumah bukan sekadar dinding
dan atap,Rumah adalah hati yang saling bernaung. juga cinta kasih adalah
tiangnya.” Ujarnya.
Beliau menjelaskan bahwa
cinta kasih bukan sekadar rasa, tetapi harus diwujudkan dalam sikap dan perbuatan
sehari-hari. Ada beberapa hal yang, menurut beliau, harus dijaga oleh pasangan
suami istri agar keluarga tetap samawa:
1. Menumbuhkan Rasa Syukur
Setiap Hari
Pasangan perlu menyadari
bahwa keberadaan pasangan adalah anugerah. Syukur membuat hati lapang,
menyejukkan tutur kata, dan menumbuhkan rasa saling menghargai.
2. Menghidupkan Komunikasi
yang Hangat
Kata-kata lembut ibarat air
sejuk di tengah panasnya persoalan. Mendengar lebih tulus daripada sekadar
membalas.
3. Mengalah demi Kebahagiaan
Bersama
Mengalah bukan berarti
kalah, tetapi cara menjaga hati pasangan agar tak retak. Seperti angin yang
mengalah pada hujan, keduanya bergantian menjaga kesejukan bumi.
4. Saling Memahami Peran
Suami sebagai nakhoda, istri
sebagai pendamping setia. Keduanya tahu kapan harus memimpin, kapan harus
menguatkan, dan kapan harus merangkul.
5. Menjaga Ibadah dan Doa
Bersama
Rumah tangga yang dibangun
di atas sujud dan doa adalah rumah yang dilindungi langit. Setiap masalah akan
menemukan jalan pulangnya.
Kegiatan yang berlangsung
dari pukul 10.00 WIB hingga selesai ini berjalan penuh keakraban. Canda ringan
terselip di sela penjelasan, membuat peserta merasa dekat dengan narasumber.
Di akhir penyampaian, Drs.
H. Nasuha berpesan, “Rawatlah cinta seperti merawat taman. Sirami dengan
perhatian, pupuk dengan doa, dan lindungi dari duri prasangka. Niscaya bunga
kebahagiaan akan mekar sepanjang musim.”
Usai acara, para peserta
tampak saling bertukar senyum dan cerita. Ada yang menggenggam tangan
pasangannya lebih erat, ada pula yang berbisik pelan seolah ingin mengulang
janji lama. Mata mereka berbinar, seakan membawa pulang setangkai bunga cinta
yang siap mekar di rumah masing-masing.