Pemondokan Haji Empat Kilometer dari Masjidil Haram
Ringkasan:
Banjarmasin(Pinmas)--Pada 2010 panitia jemaah haji mengupayakan pemondokan haji Indonesia paling jauh empat kilometer dari Masjidil Haram sehingga jemaah tak terlalu jauh berjalan kaki untuk beribadah. Hal itu disampaikan Irjen Kementerian Agama bidang Pengawasan HM Suparta di Banjarmasin, Senin, pa...
Banjarmasin(Pinmas)--Pada 2010 panitia jemaah haji mengupayakan pemondokan haji Indonesia paling jauh empat kilometer dari Masjidil Haram sehingga jemaah tak terlalu jauh berjalan kaki untuk beribadah.
Hal itu disampaikan Irjen Kementerian Agama bidang Pengawasan HM Suparta di Banjarmasin, Senin, pada rapat koordinasi dengan pejabat Kementerian Agama se-Kalimantan Selatan (Kalsel).
Menurut Suparta, pada 2008 pemondokan haji Indonesia berjarak 12 kilometer dari Masjidil Haram, sehingga untuk beribadah jemaah memerlukan waktu yang cukup lama dalam perjalanan.
Dengan demikian, kata dia, pada 2009 panitia terus berupaya untuk mendapatkan lokasi yang lebih dekat dengan lokasi beribadah.
Syukur, kata dia, pada waktu itu lokasi pemondokan jamaah paling jauh menjadi tujuh kilometer dari Masjidil Haram.
Pada 2010 ini, kata dia, panitia kembali berjuang untuk mendapatkan lokasi yang lebih baik dan dekat yaitu hanya empat kilometer dari Masjidil Haram.
"Kita mohon doa agar upaya tersebut berhasil, karena kini panitia Indonesia sedang berebut lokasi dengan negara lain," katanya.
Selain lebih dekat, kata dia, diharapkan pemondokan haji juga lebih terpusat pada beberapa tempat, tidak terpencar sebagaimana yang terjadi pada 2008.
Pada 2009, kata dia, tempat pemondokan jamaah masih terpencar namun relatif lebih baik dibanding 2008, dan 2010 akan lebih fokus lagi sehingga pengaturan dan pengawasan lebih mudah.
"Pemondokan haji nantinya tidak hanya dekat dengan Masjidil Haram tetapi juga dengan Mina, Padang Arafah dan beberapa daerah sekitar.
Namun kata dia, secara umum pelaksanaan ibadah haji Indonesia semakin baik, bukan hanya pada lokasi pemondokan yang lebih dekat, tetapi juga katering dan transportasi juga lebih baik.
Khusus katering, kata dia, kendati belum mampu memuaskan seluruh jamaah haji dari seluruh daerah di Indonesia, namun jauh lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya.
"Kalau masalah makanan kita sulit untuk mengikuti selera seluruh jamaah haji, karena setiap daerah memiliki kekhasan masing-masing, ada yang senang pedas dan ada yang suka manis," katanya.
Sedangkan transportasi, kata dia, selalu diupayakan perbaikan dari tahun ke tahun, namun tentang kelancaran arus tentu masih banyak kelemahan.
"Bagaimanapun tidak kurang dari 3 juta umat Islam di dunia menjadi satu di kota yang relatif kecil, tentu akan sulit untuk menata," katanya.(ant/ts)