0 menit baca 0 %

Pengawas Kantor Kemenag Kuansing Dampingi Presentasi RKJM Kepala Madrasah

Ringkasan: Kuansing ( inmas ) Memenuhi undangan Kepala Bidang Pendidikan madrasah Kanwil Kementerian Agama propinsi Riau, Kasi Penmad Kemenag Kuantan Singingi bersama 6 (enam) kepala Madrasah negeri didampingi dua orang pengawas melaksanakan prsesentasi Rencana Kerja Jangka Menengah (RKJM) tahun 2022-2005 di m...

Kuansing ( inmas ) Memenuhi undangan Kepala Bidang Pendidikan madrasah Kanwil Kementerian Agama propinsi Riau, Kasi Penmad Kemenag Kuantan Singingi bersama 6 (enam) kepala Madrasah negeri didampingi dua orang pengawas melaksanakan prsesentasi Rencana Kerja Jangka Menengah (RKJM) tahun 2022-2005 di meeting room bidang Penmad Kanwil Kemenag Riau.

Dalam acara yang digelar selama seharian penuh tersebut, para kepala madrasah diminta memaparkan rencana dan gagasan mereka terkait Delapan Standar Nasional Pendidikan yang menjadi target pelaksanaan tugas dan fungsi kepala madrasah negeri selama 4 tahun ke depan.

Mirip pelaksanaan Sidang Ujian Sarjana, Thesis atau disertasi, kegiatan yang dimulai sejak pukul 07.30 WIB hingga pukull 18.00 WIB  tersebut dihujani pertanyaan dan kritikan bertubi-tubi dari tiga orang doktor dalam jajaran markas besar pendidikan madrasah Riau, yakni bpk Dr. Muliardi Dr, Ilyas dan Dr. Griven HP. Saking ketatnya pelaksanaan presentasi, sampai-sampai ada kamad yang bertahan pada lembaran awal slide selama lebih dari 2 jam.

Menurut Kabid Penmad, hal itu dimaksudkan agar para kamad dapat betul-betul memahami dan merasa ‘memiliki’ RKJM sebagai sebuah impian tugas (Job destination) yang wajib direalisasikan dalam pengembangan madrasah empat tahun ke depan. Jadi bukan sekedar memiliki RKJM, apalagi hanya sebatas copas dari lembaga lain.

Selain menyimak penyampaian RKJM Kamad, pengawas madrasah juga diberi kesempatan untuk bertanya dan menanggapi presentasi. Hal utama yang menjadi sorotan pengawas adalah kompetensi kamad dalam mencerna dan mengimplementasikan regulasi-regulasi baru terkait pendidikan, terutama dari Kementerian Agama, cq Ditjen Pendis selain aturan dari Kemendikbud. Misalnya soal Supervisi Akademik dan kompetensi guru dalam memahami dan memetakan Gaya Belajar Siswa terkait RPP diferensia.

Hal lain yang juga perlu menjadi cacatan adalah pemikiran para doktor yang mendasar soal layanan prima di madrasah negeri, seperti harapan Dr. Ilyas agar madrasah dapat menjadikan lembaga-lembaga bonafit sebagai Standar Pelayanan Minimal. Umpamanya untuk kantin madrasah itu harus mirip suasana KFC, Satpam mirip di BCA, pustaka dan labor seperti di SMA Darma Yudha, dan lain sebagainya. 

Sementara itu, Dr. Griven HP fokus pada penggalian nilai-nilai kemelayuan yang seharusnya terintegrasi di madrasah sebagai perwujudan slogan ‘melayu adalah Islam’, termasuk mengangkat kembali karya-karya dan gagasan tokoh-tokoh melayu, seperti DR. H. Oemar Amin Husein, Ma’rifat Mardjani, Mohammad Arsyad al-Banjari, Hamzah Fansury dan lain-lain . ( SH )Â