0 menit baca 0 %

Pengawas MAN 2 Kawal Kegiatan Bimtek Computational Thinking

Ringkasan: Pekanbaru (Inmas) Bimtek Pemahaman Metode dan Model Pembelajaran Computational Thinking yang ditaja Madrasah Aliyah Negeri 2 Pekanbaru dengan tujuan membekali para guru dalam pemahaman tentang Computational Thinking dalam implementasinya untuk Proses Pembelajaran di Madrasah, yang nantinya bisa memp...

Pekanbaru (Inmas) Bimtek Pemahaman Metode dan Model Pembelajaran Computational Thinking yang ditaja Madrasah Aliyah Negeri 2 Pekanbaru dengan tujuan membekali para guru dalam pemahaman tentang Computational Thinking dalam implementasinya untuk Proses Pembelajaran di Madrasah, yang nantinya bisa mempersiapkan kompetensi-kompetensi yang dibutuhkan siswa-siswi MAN 2 Pekanbaru dalam menghadapi tantangan abad 21. Kegiatan yang dilaksanakan di Hotel Pangeran Pekanbaru dari tanggal 16 sampai dengan 18 Juli 2021, mengundang narasumber dari Dosen Informatika Politeknik Caltex Riau yang juga merupakan Instruktur Nasional Informatika (LP3TK Kemendikbud), juga mengundang KakanKemenag Kota Pekanbaru dan KaKanwil Kemenag Propinsi Riau dan jajarannya dalam memberikan materi yang berkaitan dengan Kebijakan Kemenag dan AKM/AKSI.

Ada 4 Pilar Computational Thinking (CT); Abstraksi: kemampuan memilah hal-hal penting serta kurang penting untuk fokus ke tujuan / pemecahan masalah. Algorithm: kemampuan mencapai tujuan / pemecahan masalah dengan langkah-langkah terurut. Decomposition: kemampuan memetakan sebuah struktur yang tidak terlihat serta membagi menjadi hal-hal yang lebih detail. Pattern Recognition: Mencari pola persamaan / perbedaan dari komponen masalah yang sedang ditangani. Dengan Goal: Tujuan dicapai/ Masalah diselesaikan secara cara efektif, efisien, optimal, cepat.

CT adalah proses berpikir dan bersikap, bukan belajar computer. Proses berpikir yang ‘menempel’ dalam kehidupan sehari-hari, sehingga secara ‘refleks’ akan menggerakkan motorik tubuh dalam bersikap menyelesaikan masalah hidup sehari-hari. Dengan CT, diharapkan pola mengajar para guru sudah mulai diselingi dengan kegiatan yang menuju ke arah pembiasaan para siswa berpikir secara Computational Thinking pada bidang ilmu masing-masing (HOTS). Para murid tidak lagi dibentuk hanya sebagai seorang penghafal ataupun pengikut instruksi yang baik (LOTS). Dengan kata lain, para guru bisa memberikan ‘vitamin’ yang bernama Computational Thinking pada ramuan bidang keilmuan masing-masing. Computational Thinking sudah menjadi salah satu standar yang diikuti oleh Negara Maju. Mari kita turut serta berperan untuk masa depan tunas bangsa Indonesia dalam menghadapi perkembangan Abad 21. (Ariadi Iskandar: Pengawas Madarsah pembina MAN 2 Pekanbaru)