0 menit baca 0 %

Penyuluh Kecamatan Gunung Toar Ceramah Pada Kegiatan PWRI

Ringkasan: Kuansing ( inmas ) Miki Sanjaya Ceramah Pada Kegiatan Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Gunung Toar. Selasa, 10/11/2020Kegiatan dilaksanakan di Rumah Kediaman Bapak M. Sarin di Desa Kampung Baru pada Pukul 14.00 hingga waktu ashar, yang dihadiri oleh Ketua, Pengurus dan anggota PWRI Gunu...

Kuansing ( inmas ) Miki Sanjaya Ceramah Pada Kegiatan Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Gunung Toar. Selasa, 10/11/2020


Kegiatan dilaksanakan di Rumah Kediaman Bapak M. Sarin di Desa Kampung Baru pada Pukul 14.00 hingga waktu ashar, yang dihadiri oleh Ketua, Pengurus dan anggota PWRI Gunung Toar. Materi ceramah yang ditetapkan Pengurus PWRI seputar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, dengan tema "Maulid Nabi sebagai Momentum Mengenang Sejarah dan Meneladani Rasulullah SAW".


"Sesungguhnya seluruh akhlaqul karimah sudah terkumpul pada diri Nabi SAW, sehingga kalau diringkas berarti siapa yang hendak meneladani Rasulullah maka harus senantiasa memperindah akhlaqnya. Sebutlah di antaranya berprilaku jujur (siddiq) bertanggung jawab (amanah), tabligh, fathonah," beber Miki dalam ceramahnya


"Bila ditafsirkan lebih jauh, kejujuran yang diteladankan Nabi adalah kejujuran dalam ucapan dan perbuatan yang didasari atas kebijaksanaan dan kebersihan hati. Sehingga kejujuran yang tidak didasarkan pada kebersihan hati berpotensi melahirkan kepura-puraan, dan kejujuran yang tidak didasari kebijaksanaan bisa menimbulkan kegaduhan. Sebab jujur tidak slalu berarti mengatakan apa adanya, atau menyampaikan semua yang terasa. Karna kalau kaidah menyampaikan semua yang terasa dianggap sebagai bentuk kejujuran, maka bisa saja orang menyampaikan ketidaksukaannya pada orang lain, menyampaikan kejelekan orang lain dengan alasan "ingin jujur". Singkatnya adalah bahwa sifat jujur saja tidaklah cukup. Tapi juga pemahaman yang baik dan benar," ungkap Miki lebih jauh


"Kemudian amanah bermakna bertanggung jawab, menyelesaikan dengan baik dan benar tugas dan tanggung jawab yang dipikul. Untuk meneladani Nabi maka seseorang harus berbuat yang terbaik dengan cara yang benar, terkait apapun profesi dan peran di keluarga, masyarakat, juga bangsa dan agama. Sebutlah misalnya sebagai pimpinan di sebuah lembaga, maka harus menjadi pimpinan yang mampu mempertanggungjawabkan segala bentuk pilihan dan keputusan yang dibuat," beber Miki terkait meneladani sifat amanah Nabi SAW.


"Demikian pula tabligh, kemampuan berkomunikasi harus senantiasa diasah. Serta fathonah berupa kecerdasan, skil dan kompetensi mesti slalu digali dan dikembangkan," tutup Miki menyudahi ceramahnya. ( MS )Â