Perceraian Melonjak di Rohul Dipicu Selingkuh via HP
Ringkasan:
Terjadi peningkatan kasus perceraian di Rohul. Sepanjang 2011 terjadi 460 kasus. Salah satu pemicunya adalah perselingkuhan lewat obrolan telephon genggam. Riauterkini-PASIRPANGARAIAN- Pada 2011, terdata di Pengadilan Agama (PA) Pasirpangaraian, sebanyak 460 kasus perceraian terjadi Kabupaten Rokan...
Terjadi peningkatan kasus perceraian di Rohul. Sepanjang 2011 terjadi 460 kasus. Salah satu pemicunya adalah perselingkuhan lewat obrolan telephon genggam.
Riauterkini-PASIRPANGARAIAN- Pada 2011, terdata di Pengadilan Agama (PA) Pasirpangaraian, sebanyak 460 kasus perceraian terjadi Kabupaten Rokan Hulu. Dari angka itu, terungkap faktor utama perceraian pasangan muda karena perselingkuhan via short message service (SMS) handphone.
Ungkap Kepala Kantor Kementrian Agama (Kemenag) Rohul Achmad Supardi Hasibuan, 313 kasus perceraian diketahui isteri menggugat cerai pasangannya. Sementara, suami yang menggugat cerai istrinya terdata hanya 137 kasus.
Tingginya kasus perceraian, isteri menggugat suami, menurut Ahmad Supardi, disebabkan faktor perselingkuhan salah satu pasangan via handphone, dan lewat teknologi canggih lain, seperti jejaring sosial.
“Dampak perselingkuhan via SMS terbanyak di pasangan muda. Terlihat mereka belum siap berumah tangga. Ini juga disebabkan kurangnya pembinaan agama kepada pasangan muda,†jelasnya, menjawab riauterkini.com, Jumat (27/1/12).
Menimalisir tingginya angka percerian di Rohul, Kantor Kemenag intruksikan seluruh Kantor Urusan Agama (KUA) agar menggelar kursus khusus bagi pasangan calon pengantin, sehingga memiliki pembekalan.
“Kursus itu bisa laksanakan secara massal atau per pasangan. Kursus tidak seperti penataran pada umumnya, tapi langsung ke pasangan calon pengantin, sehingga lebih efektif,†himbaunya.
Ahmad Supardi menambahkan, salah satu faktor perceraian di kalangan pasangan muda akibat kurangnya harmonis rumah tangga. Para pasangan muda dinilai kurang memahami arti berumah tangga, sehingga para pasangan tidak bisa mengendalikan diri, dan akhirnya berunjung perceraian.
Para pasangan muda dihimbau agar bisa memahami karakter pasangannya. Pun, mereka diminta tidak terburu-buru mengambil keputusan menikah di usia muda. “Jika kedua pasangan tidak saling memahami, maka pertengkaran akan terjadi dan berakibat perceraian,†ujarnya.
Ahmad Supardi mengajak seluruh pasangan muda untuk meningkatkan keimanannya ketika sudah berumah tangga, sehingga bisa membentengi diri dari perceraian yang tentunya merugikan kedua belah pihak. Dikutif dari Riauterkini.com ***(zal/Ash)