0 menit baca 0 %

Perdana Menteri Malaysia: Jati Diri dan Ilmu Pengetahuan Sama- sama Penting

Ringkasan: Malaka (Humas)- Dalam konteks Information and Communication Technologies (ICT) atau Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) perlu menerima ilmu dari Negara manapun. Untuk itu negara anggota Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) harus menguasai ilmu terkini tersebut karena relevan dengan masa depan.
Malaka (Humas)- Dalam konteks Information and Communication Technologies (ICT) atau Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) perlu menerima ilmu dari Negara manapun. Untuk itu negara anggota Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) harus menguasai ilmu terkini tersebut karena relevan dengan masa depan. Jati diri itu penting tetapi hakikatnya menguasai ilmu terkini amatlah penting. Demikian ditegaskan Perdana Menteri Malaysia Datok Seri Mohd Najib Tun Razak pada Majlis Perasmian Konvensyen DMDI ke- 12 tahun 2011, di Hoel Renaissance Bandaraya Melaka, Kamis (13/10) petang. Menurut Datok Sri Muhd Najib, DMDI merupakan gagasan yang mampu berperan sebagai jalinan kedua atau "second track" yang dapat membantu mewujudkan hubungan yang lebih kokoh dengan negara- negara di seluruh dunia. "Kegiatan apapun yang telah dilaksanakan oleh DMDI selama ini merupakan jalinan kedua yang dapat `compliment` dan `suplement` di antara negara- negara anggota," ungkapnya. DMDI mempunyai keistimewaan tersendiri dimana dikalangan negara anggota lebih mudah berurusan dalam konteks rakyat dengan rakyat dan hubungan ini sangat penting karena banyak masalah yang bisa diatasi bersama. Ia menambahkan, pada abad ke- 21 DMDI sudah sewajarnya menjadikan Melayu Islam sebagai induk dalam mengukuhkan lagi jati diri dan nilai- nilai ke Islaman sebagai norma penting di balik penumbuhan gagasan DMDI. "DMDI juga perlu mengamalkan sikap keterbukaan dalam erti kita boleh berhubungan dengan negara lain. Dalam arus globalisasi masa kini, jika sebuah negara itu menutup hubungan dengan negara luar, maka lambat laun gagasan itu akan pupus," ujarnya. Dasar keterbukaan membolehkan berhubungan dengan negara luar tanpa mengikis jati diri dari bangsa dan agama Islam itu sendiri, malah hal tersebut akan menjadikan budaya sebuah bangsa bertambah unik. "Dalam konteks ICT kita perlu menerima ilmu dari luar negeri membolehkan DMDI lebih relevan pada masa depan, kita perlu penguasaan ilmu yang terkini. Kalau DMDI hendak diangungkan mesti kuasai ilmu terkini, jati diri itu penting tetapi hakikatnya menguasai ilmu terkini amatlah penting," ujar Najib. Perdana Menteri menegaskan, bangsa Melayu dan Umat Islam seluruh dunia harusnya sadar dan membuka mata seluas- luasnya untuk bersaing dalam dunia serba mencabarkan kini. Tanpa kekuatan atau daya ketahanan, orang melayu dan umat Islam tetap menjadi lemah dan akan kehilangan martabat. Untuk itu, ia berharap agar seluruh umat melayu dan Islam harus senantiasa memperkemas dan mempersiapkan diri dari segala aspek dan lapangan dalam menokah arus dunia yang begitu mencabar sekali. Hadir dalam acara tesebut Datin Seri Rosmah Mansor, Ketua Menteri Datuk Seri Mohd Ali Rustam yang juga merupakan presiden DMDI, Datin Seri Asmah Abd Rahman, Ketua Menteri Sabah Datuk Seri Musa Aman, Menteri Besar Perak Datuk Seri Dr Zamby Abdul Kadir, Menteri Besar Perlis Datuk Seri Dr Mihd Isa Sabu dan Naib Presiden DMDI Datuk Seri Sanator Datu Pax Mangudadatu. Sementara itu dari Provinsi Riau sendiri hadir Mantar Gubernur Riau, H Saleh Djasit, Kabiro Kesra Prov Riau Alimuddin, Sekdaprov Riau Wan Syamsir Yus, Budayawan Riau Tenas Effendi, Pakar Ekonomi Riau Detri Karya, ketua DMDI Prov Riau, Ir Ajis bin Manap dan pengurus serta anggota DMDI negara anggota. Sebelum penutupan Perdana Menteri meluncurkan buku DMDI Abad ke- 21 dan Bank Data DMDI serta memberikan Anugerah Doktor Falsafah Kehormat, Anugerah Penggerak Budaya DMDI, dan Anugerah Tokoh DMDI kepada 18 orang penerima termasuk diantaranya penghargaan kepada Mantan Gubernur Riau H Saleh Djasit dan Sekdaprov Riau Wan Syamsir Yus. (msd)