Indragiri Hulu, (Inmas). Salah satu dari delapan aspek yang menjadi fokus Kementerian Agama dalam rangka pembangunan Sumber Daya Manusia di Indonesia adalah peningkatan kualitas kesalehan umat beragama. Dalam hal ini, Kemenag mempunyai tugas untuk mendorong agar umat beragama mengamalkan ajaran agamanya dengan baik dan benar. Aparatur Sipil Negara (ASN) Kementerian Agama Republik Indonesia selaku pelayan masyarakat khususnya dibidang keagamaan Islam harus merespon apa yang menjadi harapan dan keinginan berbagai kelompok masyarakat termasuk untuk mengisi ceramah agama pada PHBI (Peringatan Hari Besar Islam).
Dalam rangka pemenuhan undangan, maka pada hari Rabu 7 Februari 2024, Kepala Seksi PD. Pontren Kankemenag Kab. Inhu H. Syahril, S.Ag.,MH mengisi ceramah agama peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW di Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Rengat.
“Berada di dalam lembaga pemasyaratan (lapas) bukanlah menjadikan diri kita untuk tidak mengerjakan shalat. Sholat merupakan bentuk penghambaan tertinggi seorang makhluk/hamba terhadap penciptanya, bukti betapa manusia sangat membutuhkan Allah SWT. Saking pentingnya perintah shalat, berbeda dengan perintah amalan lainnya yang cukup hanya dengan wahyu, akan tetapi untuk perintah shalat, Nabi Muhammad SAW langsung menjemputnya kehadapan Allah SWT. Amalan yang ringan tapi berat timbangannya, karena amalan yang pertama kali dihisab di yaumil akhir adalah shalat, jika baik shalatnya maka akan baik pula amalan lainnya. Peristiwa Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW merupakan bukti maha kuasa Allah SWT. Sebagai hamba-Nya sudah seharusnya kita mendirikan/mengerjakan shalat tanpa ada alasan apapun, bahkan disaat sakitpun shalat wajib bagi umat Islam, tidak bisa berdiri maka duduk, tidak bisa duduk maka berbaring, tidak bisa juga maka dengan isyarat, begitulah pentingnya shalat. Manusia tidak luput dari kekhilafan maupun kesalahan. Keberadaan di dalam lapas akibat berbuat salah dan menjalani hukuman yang untuk menebus kesalahan yang diperbuat. Orang saleh itu punya kecenderungan memperbaiki keadaan. Pergunakan waktu masa pembinaan ini agar taubatan nasuha, yakni taubat yang sebenarnya dan sepenuh hati agar dapat menghapus keburukan-keburukan/dosa yang dilakukan sebelumnya. Mari kita jadikan momentum peringatan Isra’Mi’raj Nabi Muhammad SAW menjadi pemicu diri untuk semangat ibadah dan istiqomah menjalankan perintah Allah SWT dan Sunnah Rasulullah SAW”, ujar H. Syahril mengakhiri ceramanya.(tulang)